Menyusuri Selat Bosphorus, Kepala SMK Mudisa Surabaya Petik Pelajaran Sejarah Dua Benua untuk Dunia Pendidikan

Must read

- Advertisement -

Istanbul, wartapoint — Lawatan Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK Mudisa), Irvandy Andriansyah, S.T., M.T., ke Turkiye terus menghadirkan ruang kontemplasi mendalam. Setelah mengunduh nilai sejarah dari Masjid Agung Hagia Sophia, Irvandy berkesempatan menaiki kapal dan menyusuri perairan Selat Bosphorus di Istanbul pada Senin (9/11/2026).

​Pelayaran menembus selat alami sepanjang 30 kilometer tersebut mempertemukan pesona visual, kemajuan infrastruktur, serta rekam jejak perjuangan peradaban besar dunia. Berdiri di atas geladak kapal, Irvandy menyaksikan langsung pemandangan unik di mana Benua Eropa membentang di satu sisi dan Benua Asia berdiri anggun di sisi lainnya.

​Menyusuri Jejak Strategi Sultan Muhammad Al-Fatih

​Selat Bosphorus bukan sekadar jalur maritim vital yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Marmara. Bagi peradaban Islam, perairan ini menyimpan catatan penting dalam strategi militer Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II) saat membebaskan Konstantinopel pada 29 Mei 1453.

​Kala itu, Sultan Mehmed II mendirikan Benteng Rumeli Hisari di sisi Eropa Bosphorus pada 1452 untuk berhadapan dengan Benteng Anadolu Hisari di sisi Asia. Langkah strategis tersebut berhasil memutus rantai bantuan logistik musuh dan menjadi kunci penentu penaklukan yang mengubah jalurnya sejarah dunia.

​Menyusuri selat yang dihiasi kemegahan Jembatan Bosphorus (15 July Martyrs Bridge), Jembatan Fatih Sultan Mehmet, hingga lanskap kota modern Istanbul memberikan kesan mendalam bagi Irvandy.

​”Alhamdulillah, luar biasa sekali. Selama ini kita hanya melihat Selat Bosphorus melalui buku sejarah, film dokumenter, dan foto di internet. Hari ini bisa berada langsung di atas kapal, menyusuri selat ikonik penghubung dua benua,” ujar Irvandy.

​Ia menuturkan bahwa perjalanan ini tidak sekadar menikmati pemandangan alam, melainkan sebuah ikhtiar membaca sejarah perjuangan para pemimpin terdahulu.

​”Yang membuat saya semakin tertarik adalah nilai sejarahnya. Kita membayangkan bagaimana dahulu Sultan Muhammad Al-Fatih berjuang menaklukkan Konstantinopel. Keberhasilan besar tidak datang begitu saja; dibutuhkan visi, ilmu pengetahuan, strategi, keberanian, kerja keras, dan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT,” lanjutnya.

​Membawa Wawasan Global untuk Pembelajaran di SMK Mudisa

​Pengalaman menyaksikan bagaimana Turkiye menjembatani sejarah klasik dan modernitas infrastruktur global menjadi sumber inspirasi bagi Irvandy dalam memimpin SMK Mudisa Surabaya.

​Menurutnya, dunia pendidikan vokasi saat ini tidak boleh terbelenggu oleh ruang kelas dan buku teks semata. Pendidik maupun siswa harus memiliki orientasi berpikir yang luas, menguasai teknologi, serta adaptif terhadap perkembangan dunia internasional.

​Ia berharap rekam jejak Bosphorus yang mampu menyambungkan dua benua dapat melecut semangat para siswa untuk berani bermimpi melampaui batas geografis.

​”Saya berharap anak-anak SMK Mudisa memiliki mimpi besar. Anak SMK harus berani bermimpi ke luar negeri, menguasai bahasa asing, memiliki kompetensi teknologi, berwirausaha, dan mampu bersaing di tingkat internasional. Kita ingin lulusan SMK Mudisa tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan karier di tingkat global dengan tetap memegang teguh iman dan akhlakul karimah,” tegas Irvandy.

​Pelayaran di Selat Bosphorus ini menjadi pengingat bahwa batas geografis tidak boleh membendung cita-cita. Dari Istanbul, sebuah pesan dibawa kembali ke Surabaya: SMK Mudisa berkomitmen terus bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang berkemajuan, berwawasan global, serta unggul dalam kompetensi keahlian. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article