Saturday, April 18, 2026

Menyulam Harapan di MI Muhammadiyah 25 Surabaya: Perkuat Ikatan Orang Tua dan Anak Demi Sukses Masa Depan

Must read

Surabaya, wartapoint – Suasana haru dan hangat menyelimuti halaman MI Muhammadiyah 25 Surabaya pada Jumat malam (17/04/2026). Dalam balutan busana putih yang melambangkan kesucian niat, ratusan wali murid, guru, dan siswa berkumpul dalam agenda parenting akbar bertajuk “Perkuat Kebersamaan Hadapi Rintangan untuk Meraih Sukses di Masa Depan.”

​Acara yang dipandu oleh Ustadzah Fuadah ini bertujuan untuk menyelaraskan visi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang siswa, terutama menjelang fase-fase krusial pendidikan.

Pondasi Enam Tahun yang Menentukan

​Hadir sebagai pemateri utama, Novan Arifianto, seorang trainer dari Edloka, membawakan materi dengan gaya komunikatif yang menyentuh relung hati. Ia mengingatkan para orang tua bahwa masa Sekolah Dasar adalah fase emas yang menjadi pondasi kehidupan anak.

​“Enam tahun itu bukan waktu yang singkat. Ia ibarat pondasi bangunan—harus kuat agar kelak kokoh menghadapi segala rintangan kehidupan,” tegas Novan di hadapan para peserta.

Kepercayaan Wali Murid: Akhlak Sebagai Prioritas

​Kepercayaan tinggi terpancar dari testimoni para wali murid. Ayah dari Medina Octa, misalnya, menyatakan kemantapannya menyekolahkan kelima anaknya di madrasah ini. Menurutnya, MI Muhammadiyah 25 Surabaya tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi sangat ketat dalam menjaga akhlak siswa.

​Senada dengan itu, Mama Mazaya mengapresiasi inovasi sekolah, seperti program guest teacher yang dinilai mampu memberikan pengalaman belajar baru dan segar bagi siswa.

Tiga Kunci Sukses: Hadapi, Hayati, dan Nikmati

​Untuk mencairkan suasana, Ustadz Fatkhul memimpin sesi ice breaking yang melatih fokus dan kognitif. Memasuki inti materi, Novan Arifianto membagikan tiga kunci utama dalam menghadapi tantangan hidup:

  1. Hadapi: Melibatkan Allah dalam setiap langkah. Belajar diawali dengan Basmalah dan diakhiri dengan Hamdalah agar hati lapang dan fokus.
  2. Hayati: Menanamkan kejujuran dan kepercayaan diri. Hal ini dibuktikan melalui demonstrasi Haidar dan Aisy yang mampu mematahkan pensil hanya dengan satu jari—simbol bahwa keberanian bisa menaklukkan batasan pikiran.
  3. Nikmati: Mensyukuri proses demi meraih ridha Allah, orang tua, dan guru sebagai sumber keberkahan hidup.

Kesiapan Menghapi TKA dan Investasi Karakter

​Kepala Madrasah, Ferry Rismawan, menyatakan optimisme terkait kesiapan siswa menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA). Ia menegaskan bahwa madrasah telah melakukan ikhtiar lahir dan batin.

​“Anak-anak kita telah dipersiapkan tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga mental dan spiritual. Dengan kolaborasi antara sekolah dan orang tua, insyaallah mereka siap menghadapi TKA dengan percaya diri,” ujar Ferry.

Puncak Haru dalam Doa Bersama

​Acara mencapai puncaknya saat sesi doa bersama. Di bawah langit malam, wali murid, guru, dan siswa larut dalam suasana syahdu. Air mata tak terbendung saat mereka saling bermaafan dan mendoakan satu sama lain.

​Momen ini menjadi saksi betapa kuatnya ikatan yang terjalin. Kegiatan parenting ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum penyatuan hati untuk mencetak generasi yang tangguh, berakhlak mulia, dan siap menjemput masa depan dengan penuh harapan. (Siti Islaha)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article