
Surabaya, wartapoint – Halaman MI Muhammadiyah 25 Surabaya menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan wali murid dalam sebuah perjalanan batin yang khidmat pada Sabtu pagi (18/4/2026). Mengusung tema “Menghalau Kemalasan Beribadah Pasca Ramadhan”, kajian islami ini digelar untuk meneguhkan kembali komitmen ibadah setelah berlalunya bulan suci.
Pembukaan yang Menyejukkan
Acara dimulai tepat pukul 09.00 WIB dengan suasana yang syahdu. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh Ulima Syifa Amiri (siswa kelas 5A) dan sari tilawah oleh Saffanah Berlian Zhaafirah (siswa kelas 4C) berhasil menghadirkan kekhusyukan bagi seluruh hadirin. Dipandu oleh Mama Abil, acara mengalir dengan nuansa kekeluargaan yang kental.
Dalam sambutannya, Wakil Kepala Madrasah, Ustadzah Fuadah, mengungkapkan apresiasi tinggi atas kehadiran sekitar seratus wali murid. Beliau berharap sinergi ini terus tumbuh.
”Jika kelak enam ratus wali murid dapat berkumpul, insyaAllah kita siap melangkah lebih luas, bahkan jika harus menggelar acara di luar halaman sekolah,” tuturnya.
Ketua IKWAM, Bunda Ike, juga menyampaikan terima kasih atas antusiasme para orang tua, seraya berharap pertemuan ini menjadi pemantik kebaikan yang berkelanjutan di masa depan.
Inti Kajian: Segera Menuju Ampunan
Puncak acara diisi oleh Dra. Rohmatul Ummah, M.Pd.I, yang membedah makna Surah Ali Imran ayat 133–135. Ia menekankan pentingnya menjadi pribadi muttaqin yang memiliki tiga ciri utama:
- Dermawan: Gemar memberi dalam kondisi lapang maupun sempit.
- Mampu Menahan Diri: Meredam amarah dan menjaga lisan dari ghibah.
- Pemaaf: Melepaskan dendam bahkan saat hati merasa terluka.
”Jangan tunda kebaikan. Bergeraklah segera menuju ampunan Allah yang luasnya melampaui langit dan bumi,” pesan Ustadzah Rohmatul.
Kekuatan Doa dan Sinergi Orang Tua-Guru
Sesi tanya jawab menjadi momen paling emosional. Menjawab kegelisahan wali murid mengenai cara menjaga semangat ibadah anak selama sebelas bulan ke depan, pemateri menekankan pentingnya “Jalur Langit”.
- Doa Sepertiga Malam: Mendoakan anak secara spesifik saat waktu mustajab.
- Keteladanan & Kelembutan: Menasihati dengan kasih sayang, bukan amarah.
- Kolaborasi: Membangun komunikasi yang erat antara orang tua dan guru.
Ustadzah Rohmatul juga membagikan kisah inspiratif tentang seorang siswa yang dahulu sering absen, namun berkat doa tak putus dari orang tua dan guru, kini ia sukses menjadi anggota TNI Angkatan Laut yang tetap santun dan religius.
Penutup: Karakter dan Keikhlasan
Kajian ditutup dengan pesan mendalam mengenai keseimbangan antara ibadah ritual (hablumminallah) dan karakter sosial (hablumminannas). Beliau mengingatkan bahwa obat dari segala luka hati dalam pergaulan adalah keikhlasan dan memaafkan.
Acara berakhir dengan doa bersama yang mengharu biru. Para wali murid pulang tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga tekad baru untuk menjaga ruh Ramadhan agar tetap menyala dalam mendidik generasi islami yang cerdas dan bercahaya.
Ruh Ramadhan tidak boleh pergi seiring bergantinya bulan; ia harus tetap hidup dalam setiap langkah dan doa kita. (Siti Islaha)





