
SURABAYA — Perkuliahan perdana mata kuliah Bahasa Indonesia di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) berlangsung interaktif. Mengawali tatap muka bersama 59 mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027, dosen pengampu Najib Sulhan melemparkan pertanyaan pemantik tentang urgensi mempelajari Bahasa Indonesia di tingkat perguruan tinggi.
Beragam jawaban meluncur dari para calon dokter gigi tersebut, mulai dari keinginan untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar hingga meningkatkan kemampuan berbicara.
Sebelum memberikan penjelasan lebih dalam, Najib menunjukkan 10 buku karya mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan tahun sebelumnya—mulai dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Psikologi, Fakultas Kesehatan, hingga Fakultas Kedokteran. Langkah ini dilakukannya untuk memberikan gambaran konkret mengenai muara dari pembelajaran bahasa.
”Belajar Bahasa Indonesia itu untuk membangun kerangka berpikir. Apa yang didengarkan, dilihat, dan dirasakan, mampu dipahami serta diimplementasikan. Bahkan, seluruh gagasan tersebut dapat disampaikan kembali secara efektif, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan,” tegas Najib.
Ia menjelaskan bahwa peran strategis inilah yang menjadikan Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), sebagaimana tertuang dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 209/B/KPT/2025.
Menurutnya, Bahasa Indonesia membekali mahasiswa dengan pola pikir logis yang didukung oleh struktur bahasa dan pemilihan kata (diksi) yang tepat.
”Semua yang terekam dalam otak dikomunikasikan melalui simbol-simbol bahasa. Dengan pemahaman yang baik, keterampilan public speaking mahasiswa akan lebih terasah. Selain itu, simbol bahasa dalam bentuk karya tulis mampu mengutarakan gagasan secara sistematis, yang pada akhirnya sangat penting untuk membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi,” lanjutnya.
Meskipun belum masuk ke materi inti, sesi motivasi pada kuliah perdana ini memicu antusiasme tinggi dari para mahasiswa. Sesi tanya jawab di akhir perkuliahan diwarnai dengan beragam pertanyaan kritis seputar teknik berbicara hingga strategi menulis yang efektif.
Mengingat keterbatasan waktu, pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara singkat oleh dosen pengampu dan akan dibahas lebih mendalam sepanjang proses perkuliahan semester ini. (yupan)





