Klaten, wartapoint — Peta bisnis perhotelan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kedatangan warna baru. Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (organisasi perempuan Muhammadiyah) resmi memperkenalkan ‘Aisyi Tower Klaten, sebuah hotel yang membawa konsep unik dan mendobrak pakem bisnis penginapan konvensional.
Direktur Utama Suara Muhammadiyah, Deni ‘Asy’ari, menegaskan bahwa kehadiran ‘Aisyi Tower Klaten menjadi bukti nyata bahwa organisasi perempuan mampu mengelola bisnis secara profesional, modern, dan terbuka.
”Ini wajah baru bisnis yang dikelola oleh perempuan Muhammadiyah. Bahwa sebagai perempuan pun sesungguhnya bisa untuk mengurus bisnis secara profesional dan terbuka,” ujar Deni dalam konferensi pers di Ruang Darwis ‘Aisyi Tower Klaten, Kamis (11/6/2026).
Menengok Konsep “Hotel Literasi”
Berbeda dengan hotel pada umumnya yang hanya menjual fungsi akomodasi, ‘Aisyi Tower Klaten memiliki fondasi nilai yang kuat pada dunia literasi. Deni menjelaskan, konsep ini lahir karena akar historis Suara Muhammadiyah yang bergerak di bidang media dan literasi.
Nilai-nilai edukasi tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam arsitektur dan atmosfer bangunan hotel.
”Kita mem-branding hotel ini sebagai hotel literasi. Harapannya, ini benar-benar bisa mencerahkan, memperkaya wawasan, serta memberdayakan masyarakat sekitar sehinga mampu menginspirasi banyak orang,” jelas Deni.
Fasilitas Premium di Kelas Bintang 2
Secara klasifikasi formal, ‘Aisyi Tower Klaten masuk ke dalam kategori hotel bintang 2 plus-plus. Hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah kamar yang belum memenuhi regulasi formal untuk naik ke kelas bintang 3.
Berikut adalah perbandingan klasifikasi kamar ‘Aisyi Tower Klaten:
| Parameter | Regulasi Hotel Bintang 3 | Realita ‘Aisyi Tower Klaten |
|---|---|---|
| Jumlah Kamar | Minimal 40 Kamar | 28 Kamar (Setara standar Bintang 2) |
| Kualitas Fasilitas | Standar Bintang 3 | Setara Bintang 4 |
Meski secara kuantitas kamar masuk dalam kategori bintang 2, Deni menjamin bahwa dari segi pelayanan, interior, dan fasilitas penunjang, hotel ini menyajikan kualitas premium.
”Secara fasilitas, kita melebihi (bintang 2). Kita ini 28 kamar, tetapi secara fasilitas kita seperti bintang 4. Terpenuhi di sini semua,” tuturnya.
Melampaui Sekadar Label “Syariah”
Satu hal yang cukup menarik perhatian adalah keputusan manajemen untuk tidak menyematkan label “Hotel Syariah” pada ‘Aisyi Tower Klaten. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan yang matang.
Menurut Deni, ‘Aisyiyah sebagai organisasi keagamaan memiliki komitmen yang lebih tinggi daripada sekadar komodifikasi label agama untuk kepentingan bisnis. Manajemen memilih fokus pada substansi ketimbang formalitas semata.
”Kenapa tidak pakai label syariah? Karena ‘Aisyiyah itu lebih dari syariah. Kami tidak bermain pada aspek labeling, tetapi pada aspek value (nilai),” tegas Deni.
Melalui pendekatan ini, pihak manajemen berkomitmen agar setiap tamu—tanpa memandang latar belakang—dapat langsung merasakan nilai-nilai keramahan, kebersihan, kejujuran, dan kenyamanan yang islami secara alami sejak pertama kali melangkah kaki ke dalam hotel. (Cris)





