Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Saturday, June 13, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Merawat Kemanunggalan di Tukangan: Saat Seragam Hijau dan Kaos Oblong Melebur dalam Lumpur

Must read

Boyolali, wartapoint — Budaya gotong royong yang menjadi akar tunggang kohesi sosial masyarakat perdesaan kembali memperlihatkan taringnya di lereng Boyolali. Di tengah gempuran individualisme modern, warga bersama aparat teritorial memilih turun ke jalan, mencangkul parit, dan membersihkan ruang publik demi merawat tidak hanya kebersihan lingkungan, tetapi juga ikatan batin antarsesama.

​Aksi kolektif ini terekam jelas di Dukuh Tukangan, Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (13/6/2026). Sejak pagi, puluhan warga bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Candi dari Koramil 05/Ampel Kodim 0724/Boyolali bahu-membahu membersihkan kawasan pemukiman. Sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar jargon di atas kertas, melainkan laku hidup sehari-hari.

​Meruntuhkan Sekat Jarak

​Dalam kegiatan tersebut, Serda Hari S bersama lima anggota Koramil 05/Ampel melebur tanpa sekat bersama warga. Menggunakan peralatan seadanya seperti cangkul, sabit, dan gerobak dorong, mereka membagi tugas mulai dari membabat rumput liar yang menutup bahu jalan hingga mengeruk sedimen tanah di saluran irigasi guna mengantisipasi genangan air.

​”Kegiatan kerja bakti ini memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar persoalan sanitasi lingkungan. Ini adalah ruang kultural untuk menjaga silaturahmi dan merawat kekompakan. Kepercayaan dan kebersamaan yang dipupuk di lapangan seperti ini adalah modal sosial paling berharga bagi kami dalam menjaga stabilitas wilayah,” ujar Serda Hari S di sela-sela kegiatan.

​Menurut Hari, kehadiran TNI di tengah masyarakat harus berfungsi sebagai katalisator penggerak. Ketika masyarakat melihat aparatnya mau berkeringat bersama di selokan, ruang dialog yang jujur dan organik antara negara dan warga akan tercipta dengan sendirinya.

​Motivasi bagi Warga

​Inisiatif para prajurit baret hijau ini mendapat respons positif dari komunitas lokal. Bagi warga Dukuh Tukangan, kehadiran Babinkan/Babinsa yang bersedia turun langsung ke lapangan memberikan suntikan moral tersendiri.

“Kalau melihat bapak-bapak tentara bersemangat, warga yang tadinya lelah jadi ikut terpacu. Budaya seperti ini (gotong royong) memang harus dipancing terus agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkap salah seorang warga setempat.

​Di era di mana kepedulian terhadap lingkungan sering kali hanya berhenti sebagai kampanye digital di media sosial, aksi nyata di tingkat tapak seperti di Desa Candi menunjukkan bahwa kesadaran ekologis warga desa justru tumbuh dari rasa kepemilikan bersama atas ruang hidup mereka.

​Warisan yang Harus Hidup

​Kegiatan gotong royong yang berjalan dengan aman, tertib, dan guyub ini memantulkan kembali esensi pertahanan semesta yang berbasis pada kedekatan kultural. Wilayah perdesaan yang bersih, nyaman, dan harmonis secara tidak langsung membentuk ketahanan komunitas yang tangguh dari level paling bawah.

​Kerja bakti di Dukuh Tukangan sore itu berakhir saat matahari mulai meninggi, menyisakan jalan desa yang bersih dan parit yang lancar mengalir. Namun, lebih dari itu, esensi utama yang tertinggal adalah ingatan kolektif warga bahwa dalam menjaga tanah kelahiran, mereka tidak pernah berjalan sendirian. (Agus)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article