Surabaya, wartapoint — Ampas kopi dan tempurung kelapa biasanya hanya berakhir menjadi tumpukan sampah yang terabaikan. Namun, di tangan Raffasya Daniyal Alfarizqi, seorang siswa kelas 7 SMP Negeri 46 Surabaya, kedua jenis limbah organik tersebut berhasil disulap menjadi BIOCOCA INK, sebuah produk tinta spidol inovatif yang ramah lingkungan.
Ide pembuatan tinta alternatif ini lahir dari kegelisahan Raffasya melihat melimpahnya limbah organik di sekitarnya yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai salah satu negara produsen kopi dan kelapa terbesar di dunia, Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah dari kedua komoditas tersebut setiap tahunnya, yang sebagian besar hanya dibuang atau dibakar.
“Kalau jumlahnya sangat banyak, mengapa tidak diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat?” ujar Raffasya mengenang awal mula risetnya.
Pertanyaan sederhana itu menjadi pemantik lahirnya BIOCOCA INK. Nama tersebut merupakan akronim dari BIO yang menggambarkan sifat ramah lingkungan, CO (coffee grounds) atau ampas kopi, serta CA (coconut shell charcoal) yang berarti arang tempurung kelapa. Kedua bahan ini dipilih karena selain melimpah, juga memiliki kandungan karbon tinggi yang potensial sebagai sumber pigmen hitam alami untuk menggantikan bahan kimia pada tinta spidol konvensional di sekolah.
Melalui Rangkaian Trial and Error
Proses menemukan formula yang presisi tidak terjadi dalam semalam. Raffasya harus melakukan serangkaian eksperimen laboratorium mandiri dengan menguji tiga formula berbeda: tinta berbahan dasar ampas kopi murni, arang tempurung kelapa murni, serta formula kombinasi dari kedua bahan tersebut.
Setiap sampel diuji secara ketat berdasarkan tingkat kepekatan warna, kelancaran saat digoreskan, waktu pengeringan, hingga kestabilan aliran tinta pada penampung spidol.
”Tidak semua percobaan berhasil. Ada yang warnanya terlalu pudar, ada yang terlalu encer, bahkan ada yang tidak mengalir dengan baik. Dari situ saya terus belajar dan memperbaiki formula tinta sampai mendapatkan hasil yang optimal,” tuturnya.
Berdasarkan hasil pengujian akhir, formula kombinasi antara ampas kopi dan arang tempurung kelapa terbukti memberikan performa terbaik. Perpaduan ini menghasilkan warna hitam yang pekat, aliran tinta yang stabil, dan kualitas penulisan yang setara dengan tinta komersial.
Sabet Medali Emas Internasional
Inovasi mutakhir berskala rumahan ini rupanya berhasil mencuri perhatian dunia internasional. Raffasya sukses menyabet Medali Emas pada kategori Bioteknologi jenjang sekolah menengah dalam ajang The 6th Global Competition for Life Science (GLoCoLiS) 2026.
Kompetisi ilmiah internasional yang diselenggarakan secara daring oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Politeknik Negeri Malang ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, Korea Selatan, Vietnam, Thailand, dan Puerto Rico.
Keberhasilan Raffasya tidak lepas dari mentorship guru IPA SMPN 46 Surabaya, Aditya Gama Nurcahyo, S.Pd., yang secara konsisten memantau perkembangan proyek.
”Ketika Raffasya menyampaikan idenya, saya menilai ini sangat bagus karena mengangkat masalah nyata di sekitar kita. Yang menarik, ia mampu melihat potensi besar pada limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi produk yang berdaya guna tinggi,” kata Aditya.
Apresiasi tinggi juga mengalir dari pihak manajemen sekolah. Seusai upacara bendera pada Senin (1/6/2026), Kepala SMP Negeri 46 Surabaya, Ani Musafa’ah, M.Pd., memberikan penghargaan khusus kepada Raffasya.
“Prestasi internasional ini tentu membanggakan. Namun yang lebih berharga adalah kemampuannya mengubah kepedulian lingkungan menjadi sebuah inovasi nyata. Kami berharap pencapaian ini menginspirasi siswa lain bahwa ide sederhana, jika ditekuni, dapat menghasilkan karya yang berdampak luas,” ujar Ani.
Meski telah meraih medali emas, Raffasya mengaku tidak ingin cepat puas. Ia menargetkan BIOCOCA INK dapat terus dikembangkan secara massal.
”Ini baru langkah awal. Ke depan, saya ingin menyempurnakan formula ini agar tidak hanya digunakan sebagai tinta spidol, tetapi juga bisa diaplikasikan untuk tinta bolpoin hingga tinta printer. Semoga bisa membuat lebih banyak orang peduli terhadap kelestarian lingkungan,” pungkasnya. (yupan)





