Yogyakarta, wartapoint — Pelayanan yang berkualitas dan berlandaskan ketulusan menjadi kunci utama bagi lembaga pendidikan Islam untuk tetap memenangi kepercayaan publik di tengah ketatnya persaingan zaman. Hal tersebut menegaskan bahwa kesuksesan sebuah madrasah tidak sekadar diukur dari megahnya fasilitas, melainkan dari bagaimana komitmen pelayanan itu dihadirkan di setiap lini.
Pesan ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran, Ustadz Ali Fauzi, M.Pd.I., saat memberikan amanat dalam kegiatan Family Gathering keluarga besar MI Muhammadiyah (MIM) 25 Surabaya. Acara yang sarat dengan nuansa kekeluargaan tersebut berlangsung di Burza Hotel, Yogyakarta, Jumat (26/6/2026) malam.
Dalam sambutannya, Ustadz Ali Fauzi menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen yang konsisten mengawal gerak nadi madrasah. Penghargaan khusus ia sematkan kepada para guru, karyawan, keluarga besar TK ABA, serta Ikatan Wali Murid (IKWAM) yang senantiasa berkolaborasi membersamai perjuangan sekolah.
”Kemajuan madrasah yang kita rasakan hari ini merupakan hasil kerja sama dan kebersamaan yang telah dibangun dengan baik,” ujarnya di hadapan seluruh peserta kegiatan.
Kepercayaan Publik Meningkat, Angka Indikator Naik
Kerja keras kolektif tersebut kini mulai membuahkan hasil yang konkret. Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Ali mengabarkan capaian menggembirakan terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Hingga akhir Juni 2026, jumlah calon peserta didik baru untuk Tahun Pelajaran 2027/2028 di MIM 25 Surabaya telah menembus angka 64 siswa.
Bagi PCM Kenjeran, grafik positif ini merupakan indikator kuat bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di madrasah terus mengalami tren kenaikan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar seluruh jajaran pendidik tidak terjebak dalam zona nyaman atau cepat berpuas diri.
“Alhamdulillah, capaian ini patut kita syukuri. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat melihat kesungguhan kita dalam mendidik dan melayani. Namun, meningkatnya kepercayaan masyarakat harus diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan di semua lini,” tegas Ustadz Ali.
Formula Pelayanan dan Implementasi “Madrasah Hebat Beradab”
Lebih lanjut, Ustadz Ali menguraikan bahwa pelayanan prima (excellent service) di lingkungan madrasah memiliki dimensi yang luas. Hal itu tidak hanya menyentuh aspek administrasi dan ketepatan sistem, melainkan juga menuntut:
- Sikap ramah dan ketulusan hati dalam melayani.
- Kecepatan serta ketepatan merespons kebutuhan wali murid.
- Kesungguhan penasihat akademik (guru) dalam mendampingi tumbuh kembang dan karakter siswa.
”Semakin meningkat pelayanan yang kita berikan, maka semakin besar pula kesuksesan yang akan diraih madrasah,” tambahnya.
Mengingat kompetisi antar-lembaga pendidikan yang kian ketat, ia mengajak seluruh guru dan karyawan untuk menyatukan profesionalisme kerja dengan nilai-nilai keislaman. Slogan “Madrasah Hebat Beradab” diharapkan tidak sekadar menjadi jargon pelengkap dinding sekolah, melainkan budaya yang hidup (living culture) dalam keseharian.
Menurutnya, kehebatan sejati dari sebuah lembaga pendidikan tercermin dari akhlak, adab, serta keteladanan yang ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah. Budaya ini harus mengkristal dalam cara bertutur kata, cara mendidik, dan cara membangun jembatan komunikasi dengan wali murid.
Acara Family Gathering yang berlangsung dari pukul 18.00 WIB hingga 22.00 WIB ini pun sukses bertransformasi. Tidak hanya menjadi ruang rekreasi untuk mempererat tali ukhuwah, malam itu menjadi momentum penting untuk merekatkan kembali komitmen MIM 25 Surabaya dalam menyuguhkan pelayanan pendidikan yang unggul, profesional, dan beradab demi masa depan generasi bangsa. (Siti Islaha)





