Hadiri Milad ’Aisyiyah, Dokter Zuhro Soroti Minimnya Peran Ayah dalam Ketahanan Keluarga

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Hj. Zuhrotul Mar’ah Lailatusholichah, menyoroti masih minimnya keterlibatan figur ayah dalam pengasuhan anak dan ketahanan keluarga di lingkungan masyarakat saat ini. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri talkshow pada puncak peringatan Milad ke-109 ’Aisyiyah Kota Surabaya di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Ahad (5/7/2026).

​Puncak milad yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” ini menjadi ruang diskusi interaktif mengenai dinamika sosial, domestik, dan perlindungan anak.

​Politisi yang akrab disapa Dokter Zuhro ini mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena lapangan, di mana beban domestik dan tanggung jawab masa depan anak kerap kali bertumpu dominan pada figur ibu.

​”Secara sosiologis perempuan sering dianggap makhluk yang lemah, tetapi kenyataannya banyak perempuan yang justru menjadi penopang utama keluarga. Saat momentum Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) misalnya, mayoritas yang datang memohon dispensasi atau keringanan biaya ke sekolah-sekolah adalah para ibu,” ujar Dokter Zuhro.

​Ia menambahkan, ketimpangan peran ini juga terlihat jelas dalam ruang-ruang edukasi keluarga. “Setiap ada kegiatan parenting, hampir seluruhnya dihadiri oleh ibu-ibu. Sangat sulit mengajak para bapak untuk hadir, padahal di warung-warung kopi kita melihat mereka bisa berkumpul secara bergerombol,” lanjutnya.

​Melalui forum tersebut, Dokter Zuhro melempar pemantik diskusi mengenai strategi taktis untuk memberikan pemahaman kepada kaum laki-laki agar hak dan kewajiban dalam rumah tangga dapat berjalan secara seimbang, demi menekan angka perceraian dan membangun kepedulian keluarga.

​Peran Ibu dan Formula Mendidik Anak

​Merespons pandangan Dokter Zuhro, narasumber pertama, Dr. H.M. Sholihin Fanani, M.Pd., membenarkan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh pondasi keluarga, terutama figur ibu. Oleh karena itu, seorang ibu dituntut cerdas dan memahami teori pengasuhan secara matang.

​Sholihin membagikan empat pilar utama bagi seorang ibu jika ingin melahirkan generasi yang cerdas dan peduli, yaitu senantiasa dermawan, tidak mudah marah, mudah memaafkan, serta rajin mendoakan anak. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan tiga waktu krusial untuk memberikan nasihat kepada anak secara efektif, yakni:

  1. ​Saat anak menjelang tidur.
  2. ​Ketika momen makan bersama keluarga.
  3. ​Saat melakukan perjalanan atau bepergian bersama.

​”Ibu yang pintar akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan peduli, yang ketika dewasa kelak akan menjadi manusia-manusia pembawa kebaikan di tengah masyarakat,” kata Sholihin.

​Reduksi Konflik Rumah Tangga dan Urgensi “Bimwin”

​Sementara itu, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., menekankan bahwa metode dakwah masa kini harus bertransformasi. Menurutnya, dakwah tidak lagi melulu harus dilakukan di atas mimbar, melainkan turun langsung ke jalan melalui aksi kasih sayang, toleransi, dan bakti sosial agar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

​Siti Dalilah menyarankan kepada Dokter Zuhro agar memanfaatkan agenda jaring aspirasi (reses) anggota dewan untuk mengedukasi warga mengenai manajemen konflik rumah tangga guna menekan angka perceraian. Di internal ’Aisyiyah sendiri, gerakan ini diwadahi melalui Gerakan Perempuan Mengaji (GPM) yang konsisten mengangkat isu-isu pemecahan masalah keluarga.

​Ia juga berpesan agar orang tua mendidik anak sesuai tantangan zamannya, termasuk menguasai perkembangan dunia teknologi informasi (IT). Terkait resolusi konflik pernikahan, Siti menganalogikan pasangan seperti lembar kertas putih yang memiliki titik hitam.

​”Jangan hanya melihat titik hitam kecil itu, tetapi lihatlah kebaikan-kebaikan yang jauh lebih banyak yang telah diperbuat pasangan kita, sehingga tidak mudah mengambil keputusan untuk bercerai. Penguatan keluarga sakinah harus ditingkatkan,” tuturnya.

​Di akhir paparannya, Siti Dalilah mendorong penguatan legalitas pernikahan yang tercatat oleh negara dan mengkritisi masih adanya pembiaran terhadap praktik nikah siri di masyarakat, yang dinilainya mengotakkan pemahaman agama dan memicu kenaikan angka perceraian.

​Ia pun memberikan rekomendasi kepada Pimpinan Daerah ’Aisyiyah (PDA) Kota Surabaya mengenai pentingnya bimbingan pranikah (Bimwin).

​”Mau umrah saja kita perlu manasik atau latihan agar tahu apa yang harus dilakukan di Tanah Suci, tetapi mau menikah banyak yang tidak mau ikut bimbingan pranikah. Selain itu, yang belum ada di Indonesia saat ini adalah bimbingan perkawinan khusus untuk kaum disabilitas. Ini sangat mendesak karena mereka juga bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan umat,” pungkasnya. (Mom Yayuk/yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article