Kerelaan Orangtua Jadi Fondasi Utama Siapkan Generasi Penerus di Pesantren

Must read

- Advertisement -

Bojonegoro, wartapoint — Pondok Pesantren An Nuur Sugihwaras, Bojonegoro, secara resmi membuka kegiatan Forum Taaruf dan Orientasi Santri (FORTASI) pada Rabu (8/7/2026). Agenda tahunan yang berlangsung hingga 11 Juli ini menjadi gerbang pembuka bagi para santri baru untuk memulai perjalanan spiritual dan intelektual mereka di lingkungan pesantren.

​Prosesi pembukaan yang digelar khidmat di Aula Pondok Pesantren An Nuur tersebut dihadiri oleh berbagai elemen penting. Tampak hadir jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sugihwaras, pengurus pondok pesantren, serta Badan Pembina Pondok Pesantren An Nuur, yang memberikan suntikan motivasi bagi para santri baru.

​Kebangkitan Sang Pengasuh Tradisi Keilmuan

​Pondok Pesantren An Nuur merupakan lembaga pendidikan Islam dengan sejarah panjang di Bojonegoro. Setelah sempat mengalami masa vakum yang cukup lama, operasional pesantren kembali diaktifkan pada tahun lalu. Langkah ini menjadi bukti komitmen kuat untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam di tengah masyarakat setempat.

​Upaya tersebut membuahkan hasil yang signifikan. Pada tahun 2025, jumlah santri yang mendaftar terbilang sangat terbatas dan masih bisa dihitung dengan jari. Namun, pada tahun 2026 ini, antusiasme masyarakat meningkat tajam. Hingga kegiatan orientasi dilangsungkan, pesantren resmi menerima 11 santriwan dan 4 santriwati baru.

​Mudir Pondok Pesantren An Nuur, Ustadz Qodir, mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh. Menurut dia, peningkatan jumlah santri ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan pesantren kian mendapatkan tempat di hati para orangtua.

​Guna mengimbangi kepercayaan tersebut, pihak pesantren terus menyempurnakan sarana dan prasarana. Mulai dari penyediaan asrama yang lebih nyaman, peningkatan kualitas tenaga pengajar, hingga perluasan jejaring kemitraan strategis.

​Salah satu sinergi yang telah terjalin lama adalah kerja sama dengan Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Kerja sama ini mencakup pengiriman mahasiswa untuk pengabdian masyarakat, baik selama bulan Ramadhan maupun pengabdian triwulan sejak pesantren ini diaktifkan kembali, guna memperkaya metode pendidikan agar lebih adaptif tanpa menanggalkan nilai-nilai Islami.

​Pesantren sebagai Fase Kehidupan Terbaik

​Di hadapan puluhan wali santri yang hadir, Ustadz Gandhung membagikan refleksi dan pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan di pesantren masa silam. Menurut dia, masa menjadi santri adalah fase kehidupan terbaik yang bisa dirasakan oleh seorang anak.

​”Sebab, setiap aktivitas keseharian santri, sejak membuka mata hingga kembali tidur, dihabiskan di tempat yang baik dan bersama orang-orang yang juga baik. Kesempatan emas seperti ini sering kali sulit ditemukan di luar lingkungan pesantren,” ujar Ustadz Gandhung.

​Ia menambahkan, motivasi utama orangtua menitipkan anaknya di pesantren adalah harapan besar untuk mencetak generasi penerus yang berkarakter. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap masa depan anak.

​”Selaras dengan prinsip dalam Al Quran Surah An-Nisa ayat 9, orangtua harus memiliki semangat agar menjadikan kehidupan sang anak jauh lebih baik dari orangtuanya,” tegas Ustadz Gandhung.

​Melalui kehidupan pesantren yang terjadwal ketat, karakter disiplin dan kemandirian anak diharapkan dapat terbentuk secara alami. Selain itu, banyak orangtua—termasuk mereka yang berprofesi sebagai pendidik—tetapi memilih mengirimkan anak mereka sendiri ke pesantren demi mendapatkan pendidikan yang lebih terpadu dan berkah.

​Kunci Keberhasilan: Keikhlasan dan Doa

​Di akhir paparannya, Ustadz Gandhung memberikan catatan krusial mengenai peran orangtua. Ia menekankan bahwa kerelaan dan keikhlasan orangtua adalah kunci utama di balik betah atau tidaknya anak di dalam pondok.

​Ketika orangtua memasrahkan sepenuhnya pengasuhan anak kepada pihak pesantren, anak akan menjalani proses adaptasi dengan lebih tenang. Sebaliknya, sikap orangtua yang kerap bimbang justru berpotensi mengganggu konsentrasi belajar anak.

​”Jangan sampai sikap orangtua yang ‘angin-anginan’ menjadikan si anak ikut kepikiran di pondok, sehingga proses konsentrasi dalam pembelajarannya jadi terganggu,” nasihatnya.

​Selain kerelaan, dukungan material-finansial yang stabil serta dukungan spiritual berupa doa juga memegang peranan penting. Doa orangtua diharapkan tidak hanya mengalir untuk kesuksesan sang anak, tetapi juga untuk kelancaran operasional pesantren secara keseluruhan.

​Melalui sinergi kokoh antara doa orangtua, kesungguhan santri, dan komitmen pesantren, momentum FORTASI ini diharapkan menjadi langkah awal yang bermakna dalam mengukir masa depan generasi muda yang berilmu dan berakhlakul karimah. (Bagas/yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article