Alumni Smamita Bagikan Strategi T-Shaped Skill untuk Hadapi Industri Teknologi

Must read

- Advertisement -

Sidoarjo, wartapoint – Menghadapi pesatnya perkembangan industri teknologi membutuhkan lebih dari sekadar pencapaian akademik. Generasi muda dituntut memiliki keahlian khusus yang mendalam, kemampuan berkomunikasi yang baik, hingga kesiapan beradaptasi dengan perubahan zaman.

​Pesan tersebut disampaikan oleh alumni SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) angkatan 2018, Robby Firmansyah Ardha, S.Kom., dalam kegiatan Sharing Session bersama alumni yang digelar di Smamita, Sidoarjo, Jumat (6/11/2026).

​Robby, yang saat ini mendirikan dan memimpin perusahaan teknologi CV Ardhacodes Teknologi Indonesia, membagikan perjalanan akademik, pengalaman di dunia perkuliahan, hingga berbagai tantangan nyata saat merintis karier di industri digital.

​Berawal dari “Salah Jurusan”

​Dalam pertemuannya dengan para siswa, Robby menceritakan awal perjalanannya yang tidak sesuai dengan rencana awal. Ia mengaku dunia informatika bukanlah pilihan utamanya saat masih berseragam sekolah.

​”Saya dulunya nyasar. Dulu sebenarnya tidak ingin masuk dunia informatika. Keinginan awal saya justru masuk kedokteran,” ungkap Robby.

​Namun, keterbukaan untuk mencoba hal baru membawanya menemukan ketertarikan dan passion mendalam di bidang teknologi informasi. Dari pengalaman tersebut, ia mengajak para siswa untuk tidak berkecil hati jika jalan pendidikan yang ditempuh tidak selalu sesuai rencana.

​Menurutnya, hal terpenting adalah kemauan untuk terus belajar dan menemukan potensi diri di manapun berada.

​Menjawab Tantangan Industri dan Konsep T-Shaped Skill

​Memasuki sesi pemaparan materi, Robby menggarisbawahi sejumlah tantangan utama yang wajib diantisipasi oleh generasi muda jika ingin terjun ke industri teknologi.

​Tantangan tersebut meliputi kesenjangan kemampuan akademik (academic gap), minimnya pengalaman industri (experience gap), serta laju perubahan teknologi yang sangat cepat, terutama dengan masifnya integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

​Untuk menjawab tantangan tersebut, Robby merekomendasikan para siswa untuk membangun profil keahlian berbasis T-Shaped Skill—konsep pengembangan diri yang memadukan satu keahlian spesialisasi mendalam (garis vertikal) dengan wawasan luas serta kemampuan lintas bidang (garis horizontal).

​”Jangan hanya tahu banyak hal tetapi tidak memiliki keahlian yang benar-benar dikuasai. Kalian perlu punya satu kemampuan unggulan, misalnya coding atau AI prompting. Namun, jangan lupakan kemampuan pendukung seperti komunikasi dan kepemimpinan,” jelasnya.

​Selain keahlian teknis, ia menegaskan pentingnya memiliki daya tahan menghadapi tekanan (resilience) serta kemampuan berpikir analitis (analytical thinking) sebagai modal dasar di dunia kerja.

​Bahasa Asing dan Keamanan Data Digital

​Tak hanya menyoroti keahlian teknis, Robby juga menekankan krusialnya penguasaan bahasa asing untuk menangkap peluang karier di tingkat global, seperti sistem kerja jarak jauh (remote work) di perusahaan mancanegara.

​”Kalau ingin punya peluang bekerja secara remote di perusahaan luar negeri, salah satu tiket pentingnya adalah bahasa. Bahasa Inggris memang sudah umum, tetapi kemampuan bahasa Mandarin atau Jepang juga bisa membuka peluang yang sangat besar,” tuturnya.

​Di samping peluang karier, Robby memberikan peringatan khusus mengenai pentingnya menjaga keamanan data pribadi di era digital. Siswa diimbau untuk bijak dan tidak sembarangan membagikan informasi sensitif ke platform internet, situs tidak resmi, maupun layanan AI terbuka.

​”Hati-hati, jangan sembarangan memberikan data sensitif. Jangan sampai kalian membagikan data pribadi hanya karena diminta oleh suatu platform,” tegasnya.

​Persiapan Sejak Bangku Sekolah

​Melalui kegiatan Sharing Session ini, para siswa Smamita diharapkan memperoleh gambaran yang nyata mengenai dinamika dunia perkuliahan dan industri digital.

​Di akhir sesi, Robby berharap siswa tidak hanya berfokus pada nilai akademik semata, tetapi juga aktif berorganisasi, mengasah keahlian non-teknis (soft skill), serta memperluas wawasan dan karakter.

​Sebab, keberhasilan menghadapi masa depan tidak hanya diukur dari seberapa banyak teori yang dihafal, melainkan sejauh mana seseorang mampu mengaplikasikan potensinya untuk terus beradaptasi dan belajar di tengah perubahan zaman.

​Penulis: Yumna/Nashiiruddin

Editor: (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article