
Surabaya, wartapoint – Sosialisasi Pembelajaran Wali Murid Kelas V SD Muhammadiyah 16 Surabaya di Hall Lantai 3, Sabtu (25/7/2026), tidak hanya membahas kalender akademik dan agenda pembelajaran selama satu tahun. Sekolah juga menegaskan pentingnya peran orang tua sebagai mitra utama dalam membangun budaya kepemimpinan melalui implementasi Leader in Me (LiM).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu dibuka oleh Sofwan Hidayat, S.Hum., M.Pd. dan dihadiri seluruh wali murid kelas V. Suasana berlangsung hangat dengan berbagai sesi interaktif yang diselingi pembagian reward kepada peserta.
Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., mengatakan pendidikan karakter tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Menurutnya, keberhasilan pembentukan karakter peserta didik bergantung pada keselarasan pembiasaan di sekolah dan di rumah.
“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah hadir. Kehadiran panjenengan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pendidikan putra-putri kita,” ujar Ely.
Ia berharap berbagai budaya positif yang sudah diterapkan di sekolah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari di lingkungan keluarga.
“Kami membangun budaya sekolah yang berkarakter. Pembiasaan salat tepat waktu, gemar membaca, menjaga kebersihan, dan disiplin akan lebih bermakna apabila juga dilakukan di rumah,” katanya.
Menurut Ely, komunikasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan pembelajaran selama siswa berada di kelas V.
Paparan berikutnya disampaikan Wakil Kepala Sekolah Suyono, S.Si. yang menjelaskan kalender pendidikan beserta seluruh agenda pembelajaran selama satu tahun.
“Orang tua sudah menerima buku yang di dalamnya terdapat hari efektif dan jadwal kegiatan selama satu tahun. Harapannya, orang tua dapat mengikuti sekaligus mendukung setiap program sekolah,” jelasnya.
Suyono juga memaparkan rencana kegiatan outbound yang akan dilaksanakan pada semester pertama.
“Outbound di Madiun selama tiga hari menjadi bagian dari pembelajaran karakter. Anak-anak akan berangkat menggunakan kereta api sehingga mereka belajar disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian dalam situasi nyata,” ujarnya.
Salah satu materi yang mendapat perhatian besar dari para wali murid adalah implementasi Leader in Me (LiM) sebagai budaya sekolah.
Dalam paparannya dijelaskan bahwa program tersebut bertumpu pada tiga komponen utama.
“Leader in Me dibangun melalui tiga pilar, yaitu leadership, culture, dan academic. Ketiga aspek ini akan berjalan optimal apabila sekolah dan keluarga memiliki komitmen yang sama,” ungkap pemateri.
Sekolah juga menjelaskan bahwa budaya kepemimpinan melibatkan seluruh unsur pendidikan.
“Peserta didik tergabung dalam Student Lighthouse Team, guru berada di Teacher Lighthouse Team, sedangkan orang tua menjadi bagian dari Parent Lighthouse Team. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.
Suasana semakin semarak ketika Ely Rhodlifah mengundang wali murid yang telah mempercayakan pendidikan anaknya di SD Muhammadiyah 16 Surabaya sejak kelas I.
Melihat banyaknya orang tua yang berdiri, Ely menyampaikan rasa syukurnya.
“Ternyata banyak wali murid yang tetap memberikan kepercayaan kepada sekolah. Amanah ini akan terus kami jaga dengan memberikan pelayanan pendidikan terbaik,” tuturnya.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan pemilihan koordinator wali murid di masing-masing kelas yang berlangsung secara aklamasi. Meski sederhana, proses tersebut diwarnai diskusi hangat yang memperlihatkan antusiasme orang tua untuk terlibat aktif dalam kegiatan sekolah.
Pada sesi tanya jawab, sejumlah wali murid mengangkat berbagai isu, mulai dari persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA), pelaksanaan tugas akhir, perkembangan akademik peserta didik, hingga penyesuaian pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK).
Seluruh pertanyaan dijawab oleh Dian Permanasari, S.Sos. bersama guru kelas V, Ita, yang menjelaskan strategi pendampingan sekolah sekaligus pentingnya komunikasi yang berkelanjutan dengan orang tua.
Melalui sosialisasi tersebut, SD Muhammadiyah 16 Surabaya menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran bukan hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang dibangun melalui kolaborasi erat antara sekolah dan keluarga.
(Ahmad Mahmudi)





