Surabaya, wartapoint – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan 1447 H, umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Surabaya, tengah berada dalam puncak spiritualitas. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang beriktikaf, melantunkan doa, dan bermunajat demi mengejar kemuliaan Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun, sebuah renungan mendalam hadir dari Agus Rosid SH, mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya. Ia melemparkan sebuah pertanyaan retoris yang menguji hakikat kesalehan kita: Apa yang harus dilakukan jika saat hendak berangkat iktikaf, seorang tetangga datang memohon bantuan untuk mengantar suaminya yang terkena serangan jantung ke IGD?
Timbangan Kesalehan: Vertikal vs Horizontal
Menurut Agus, situasi ini adalah titik di mana timbangan kesalehan seseorang dipertaruhkan. Di satu sisi, mengejar Lailatul Qadar adalah anjuran syariat yang dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui hadis riwayat Aisyah tentang kesungguhan beliau menghidupkan sepuluh malam terakhir.
Di sisi lain, Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi dimensi sosial. Agus mengutip pesan Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. At-Thabrani). Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa membantu kebutuhan saudara lebih dicintai Rasulullah daripada iktikaf di masjid selama sebulan penuh.
Menolak Dikotomi Ibadah
Dalam tulisannya, Agus menekankan bahwa seringkali kita terjebak dalam dikotomi atau pemisahan antara urusan ‘ukhrawi’ (akhirat) dan ‘duniawi’ (sosial). Seolah-olah hubungan vertikal kepada Sang Khalik tidak memiliki kaitan langsung dengan hubungan horizontal kepada sesama manusia.
”Islam tidak mengenal dikotomi itu. Ibadah dan ikhtiar adalah satu kesatuan untuk mendapatkan predikat hamba mulia di sisi Tuhan. Ibarat dua pedal sepeda yang harus dikayuh serempak,” tulis Agus Rosid.
Manifestasi Nyata Lailatul Qadar
Memilih untuk berada di IGD demi menyelamatkan nyawa seseorang di malam-malam ganjil bukanlah penghalang untuk meraih kemuliaan. Justru, hal tersebut bisa jadi adalah jalan pintas menuju keridaan Allah. Merujuk pada QS. Al-Ma’idah: 32, menyelamatkan satu nyawa manusia setara dengan memelihara kehidupan seluruh umat manusia.
Agus menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar seharusnya tidak menjadikan pribadi yang terasing dari realitas sosial. Sebaliknya, momen ini harus menjadi pembuktian bahwa kesalehan spiritual harus mengalir menjadi kepekaan sosial.
Kesimpulan
Menghadirkan diri bagi sesama yang membutuhkan di saat kritis adalah manifestasi nyata dari hakikat ibadah yang menghidupkan nilai kemanusiaan. Lailatul Qadar bukan sekadar ritual pribadi di balik dinding masjid, melainkan denyut nadi kepedulian yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Jadi, baik di sujudnya lantai masjid maupun di ruang tunggu IGD yang tegang, kemuliaan Tuhan tetap bisa diraih oleh mereka yang mengedepankan cinta kepada sesama sebagai wujud cinta kepada Penciptanya.






