Surabaya, wartapoint — Menghafal Al-Qur’an atau tahfidz sering kali dipandang semata-mata sebagai bentuk ibadah ritual bagi umat Islam. Namun, di balik nilai keagamaannya, aktivitas menghafal kitab suci ini ternyata memiliki korelasi erat dengan peningkatan kecerdasan anak, baik secara intelektual (IQ), emosional (EQ), maupun spiritual (SQ).
Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan ribuan ayat bukan hanya menjadi pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Proses menghafal dan meresapi setiap ayatnya terbukti secara ilmiah memberikan dampak positif pada struktur dan fungsi otak manusia.
Bukti Ilmiah dan Aktivitas Otak
Korelatif antara tahfidz dan peningkatan kecerdasan bukan sekadar asumsi logis. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmadi dan Rezaei pada tahun 2017 menunjukkan bahwa anak-anak yang aktif dalam program tahfidz Al-Qur’an memiliki daya ingat yang jauh lebih baik dibandingkan anak-anak yang tidak menghafal.
Melalui pemindaian neuroimaging, peneliti menemukan adanya aktivitas yang lebih tinggi pada bagian otak yang bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengambilan informasi (memory recall).
Proses menghafal yang melibatkan repetisi (pengulangan) secara konsisten membantu mengasah daya ingat, meningkatkan daya konsentrasi, serta melatih kemampuan analisis anak secara bertahap.
Melatih Kontrol Emosi dan Ketenangan Batin
Tidak hanya berdampak pada kecerdasan intelektual, tahfidz Al-Qur’an juga berperan besar dalam membentuk kecerdasan emosional. Proses menghafal membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, ketekunan, dan kontrol diri yang kuat—terutama saat menghadapi ayat-ayat yang sulit atau menuntut refleksi mendalam.
Anak-anak yang rutin menghafal Al-Qur’an terbukti memiliki kemampuan pengelolaan emosi yang lebih baik dan menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah ketika berhadapan dengan situasi sulit.
Di sisi lain, proses tadabbur atau memahami makna ayat yang dihafalkan merangsang kemampuan berpikir kritis dan logis. Secara spiritual, interaksi harian dengan Al-Qur’an memperkuat hubungan batin dengan Sang Pencipta, menciptakan kedamaian, ketenangan, serta kesadaran akan tujuan hidup yang lebih mulia.
Rationale di Balik Jalur Beasiswa Tahfidz
Dampak positif tahfidz terhadap kapasitas kognitif dan karakter inilah yang menjadi fondasi pertimbangan kebijakan pemerintah. Saat ini, berbagai jalur khusus dan beasiswa tahfidz dibuka luas bagi para penghafal Al-Qur’an yang ingin melanjutkan pendidikan, mulai dari jenjang sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi negeri (PTN) tanpa tes.
Kebijakan tersebut didasari pemahaman bahwa seorang hafidz atau hafidzah telah teruji memiliki kapasitas kecerdasan, kedisiplinan, dan daya ingat yang mumpuni. Kualifikasi mental dan kognitif inilah yang dinilai menjadi modal kuat bagi mereka untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan sukses.
Artikel dari kajian Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya, Jatim, MA.






