
Memperingati Hari Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026, Gerakan Pramuka menegaskan kembali peran strategisnya dalam pembangunan bangsa melalui tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema ini menjadi panggilan aksi bagi Pramuka untuk bertransformasi dan hadir menjawab tantangan zaman, khususnya dalam mencetak generasi muda yang mandiri serta berkarakter.
Jejak Sejarah dan Refleksi Karakter
Perjalanan Gerakan Pramuka tidak lepas dari momentum bersejarah 9 Maret 1961, saat Presiden Soekarno mengumpulkan tokoh-tokoh kepanduan untuk menyatukan berbagai organisasi ke dalam satu wadah nasional. Gagasan ini diperkuat melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 pada 20 Mei 1961, hingga akhirnya Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada publik pada 14 Agustus 1961.
Setelah lebih dari enam dekade berlalu, nilai-nilai dasar kepramukaan—seperti kedisiplinan, kemandirian, gotong royong, dan kepedulian sosial—dinilai tetap sangat relevan untuk membendung dampak negatif era digitalisasi dan globalisasi pada remaja masa kini.
Inovasi Menghadapi Arus Modernisasi
Memasuki usianya yang ke-65, Gerakan Pramuka didorong untuk terus bertransformasi menjadi organisasi yang modern, profesional, dan adaptif. Aktivitas Pramuka kini tidak boleh sekadar berorientasi pada kegiatan alam terbuka atau acara seremonial semata.
Pramuka dituntut mampu memanfaatkan teknologi digital untuk merangkul generasi muda, tanpa menghilangkan prinsip dasar pendidikan karakter. Pembinaan pada tingkat Siaga, Penggalang, Penegak, hingga Pandega perlu dikemas secara kontekstual, menarik, dan relevan dengan tantangan abad ke-21.
Aksi Nyata: Keterlibatan dalam Swasembada Pangan
Salah satu terobosan nyata dalam peringatan tahun ini adalah penekanan pada peran Pramuka dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dukungan ini diwujudkan melalui aksi edukatif yang dapat dimulai dari tingkat basis (gugus depan), antara lain:
- Pemanfaatan Lahan: Pengelolaan kebun sekolah, lahan produktif, dan urban farming.
- Edukasi Lingkungan: Pengembangan pangan lokal, program penghijauan, dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
- Pembentukan Kecakapan Hidup: Mengajarkan proses produksi hingga konsumsi pangan yang bijak sebagai sarana menanamkan etos kerja dan kemandirian.
Investasi Sumber Daya Manusia untuk 2045
Menuju visi Indonesia Emas 2045, modal terbesar bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Anggota Pramuka hari ini adalah para calon pemimpin, profesional, pelaku usaha, dan inovator di masa depan.
Eks Anggota Pramuka periode 1994–2003 sekaligus Wakil Ketua PCM Sambikerep, Anang Dony Irawan, menegaskan bahwa perayaan Hari Pramuka ke-65 harus dibuktikan melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat, bukan sekadar upacara tahunan.
“Pramuka harus tetap menjadi tempat belajar, bertumbuh, berkarya, dan mengabdi. Dari kegiatan sederhana di gugus depan hingga gerakan yang lebih luas, setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan besar menuju Indonesia Emas 2045,” ungkap Anang.
Dengan memantapkan tata kelola organisasi, menguatkan pembinaan karakter, serta berkontribusi aktif dalam gerakan swasembada pangan, Gerakan Pramuka membuktikan bahwa nilai-nilai kepanduan yang lahir sejak 1961 tetap hidup, relevan, dan menjadi pilar penting kemajuan Indonesia.
Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan.





