
Sidoarjo, wartapoint – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H. R. Muhammad Syafi’i menjenguk tujuh santri Pesantren Manbaul Hikam yang harus menjalani perawatan medis di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur. Para santri tersebut dirawat menyusul dugaan keracunan usai mengonsumsi hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam kunjungan tersebut, Wamenag didampingi Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar dan Direktur PD Pontren Kemenag RI Basnang Said. Selain mendoakan kesembuhan, Wamenag juga menyerahkan santunan kepada para korban dan pihak pesantren.
Rombongan Kemenag kemudian melanjutkan kunjungan ke Pesantren Manbaul Hikam dan disambut langsung oleh Ketua Yayasan, KH Abdul Wachid Harun, untuk menyampaikan dukungan moril.
Dorong Investigasi Mendalam tanpa Menghentikan MBG
Di hadapan pengurus pesantren, Wamenag menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan program MBG di pesantren maupun madrasah. Berdasarkan penuturannya, para santri sejatinya sangat antusias dan membutuhkan program tersebut.
“Dari kunjungan ke santri tadi, mereka menunggu dan sangat membutuhkan MBG. Program ini sudah berjalan beberapa bulan dari SPPG yang sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini terjadi masalah. Karena itu, harus ada investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” ujar Wamenag.
Dugaan awal menyebut keluhan santri berakar dari menu telur dan sayuran. Namun, Wamenag meminta evaluasi menyeluruh untuk memastikan apakah kendala berada pada proses memasak atau ketidaksesuaian jadwal konsumsi dengan petunjuk teknis (juknis). Evaluasi ditujukan murni demi menjaga standar keamanan dan kualitas gizi, bukan mempertanyakan keberlanjutan program.
Kronologi Kejadian di Pesantren Manbaul Hikam
Ketua Yayasan Pesantren Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, membeberkan kronologi peristiwa yang terjadi pada Selasa (1/9/2026) tersebut:
- Pukul 10.00 WIB: Sebanyak 1.010 porsi MBG dari SPPG Kalitengah tiba di pesantren. Menu terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.
- Pukul 12.00 WIB: Makanan dibagikan dan disantap bersama oleh siswa MA dan MTs sebelum masuk sekolah pukul 13.00 WIB.
- Pukul 16.00 WIB: Sejumlah santri mulai mengeluhkan pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas, lalu ditangani awal oleh bidan desa setempat.
- Pukul 16.30 WIB – Magrib: Jumlah korban terus bertambah hingga puluhan orang. Pengurus pesantren mengerahkan ambulans untuk mengevakuasi santri ke 9 rumah sakit rujukan.
- Rabu pagi – siang: Keluhan kesehatan masih dilaporkan muncul secara bertahap pada beberapa santri lainnya.
Perluasan dan Opsi Dapur Mandiri Pesantren
Di samping penanganan kasus, Kemenag terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) guna memperluas jangkauan MBG. Saat ini, baru 42 persen pesantren sasaran yang menerima manfaat, dan Kemenag menargetkan seluruh pesantren serta madrasah—termasuk di daerah terpencil—tercover tahun ini.
Untuk mempercepat distribusi dan menjaga kesegaran makanan, Wamenag menyampaikan adanya kebijakan baru bagi pesantren dengan populasi sekitar 1.000 santri.
“Pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri. Tidak harus membangun dapur baru, cukup meng-update dapur yang ada dengan memenuhi standar higienitas, pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbah,” terang Wamenag.
Kemenag memastikan akan terus mengawal hasil pemeriksaan medis dan laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian ini serta mencegah berulangnya kasus serupa. (Armand/yupan)
#sidoarjo #kemenag #beritanasional #jawatimur #kesehatan





