Berawal dari Keberanian Mencoba, Siswa Kelas 2 MIM 25 Surabaya Sabet Medali Perak KSNR 8 Tingkat Nasional

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Keberanian untuk melangkah sering kali menjadi pintu pembuka lahirnya prestasi besar. Hal inilah yang dibuktikan oleh Chaska Maliq Pramana, siswa kelas 2 MI Muhammadiyah 25 Surabaya (MIM 25 Surabaya), yang berhasil meraih Silver Medal (Medali Perak) Tingkat Nasional dalam Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) 8.

​Keberhasilan Maliq meraih prestasi di tingkat nasional tidak diraih secara instan. Perjalanannya dipenuhi dengan ketekunan, dukungan keluarga, serta keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

​Perjalanan Panjang Menyisihkan Puluhan Ribu Peserta

​Perjuangan Maliq dimulai pada Agustus 2026. Didorong oleh rasa penasaran dan keinginan untuk mencari pengalaman, ia mendaftar KSNR 8 dan harus bersaing dengan sekitar 65.000 peserta dalam babak penyisihan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Usahanya membuahkan hasil hingga ia dinyatakan lolos ke babak semifinal.

​Pada September 2026, babak semifinal kembali menguji kemampuan Maliq. Ia berhadapan dengan 5.184 peserta terbaik dari seluruh Jawa Timur. Meski orang tuanya sempat pasrah dan tidak membebankan target tinggi, Maliq kembali membuktikan kemampuannya dengan menembus babak final nasional bersama 292 peserta terbaik se-Indonesia.

​Puncaknya terjadi pada Minggu (18/10/2026) di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat. Di hadapan ribuan peserta dari berbagai daerah, nama Chaska Maliq Pramana diumumkan sebagai peraih Silver Medal KSNR 8 Tingkat Nasional.

​”Awalnya kami ragu. Anak kami bilang, ‘Mau coba aja, Bu, cari pengalaman.’ Namun, kami selalu mendukungnya,” ungkap Ibunda Maliq mengenang awal mula perjalanan putranya.

​Belajar Mandiri Tanpa Paksaan

​Di balik keberhasilan tersebut, terdapat pola belajar mandiri dan konsisten yang diterapkan Maliq di rumah. Meski materi soal yang diujikan berada dua tingkat di atas jenjang kelasnya, Maliq tidak merasa terbebankan.

​Setiap hari, sepulang sekolah dan mengaji, ia mencicil mengerjakan satu paket soal latihan atas kesadaran sendiri. Pendekatan belajar sains yang diterapkannya pun terbilang unik dan kontekstual.

​Maliq tidak hanya bergantung pada buku pelajaran tebal, tetapi juga mempelajari fenomena sains dari lingkungan sekitar—seperti mengamati prinsip kerja kipas angin di rumah, perubahan cuaca, hingga menyaksikan tayangan edukasi sains anak di platform YouTube.

​Tak hanya mengasah kemampuan akademis, pendampingan spiritual seperti ibadah salat Duha, sedekah, dan doa rutin menjadi bagian dari rutinitas harian yang menanamkan kedisiplinan serta ketenangan dalam dirinya.

​”Medali perak ini bukan akhir, melainkan awal. Jika kita berani mencoba, Allah akan mudahkan,” ujar sang ibunda memberikan motivasi.

​Apresiasi dan Dukungan Sekolah

​Prestasi yang diraih Maliq turut mengundang apresiasi dari pihak sekolah. Penanggung Jawab (PJ) Olimpiade MI Muhammadiyah 25 Surabaya menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan perpaduan antara ikhtiar, doa, dan mental pantang menyerah.

​”Jika usaha dan doa disatukan, itu sudah menjadi jalan sunatullah. Kekuatan besar ada pada tekad yang percaya diri, keberanian, serta hati yang lapang. Terus semangat meningkatkan prestasi,” tutur Ustazah PJ Olim MIM 25 Surabaya.

​Kisah Maliq memberikan pesan berharga bagi anak-anak sebaya: jangan menunggu siap untuk mencoba, tetapi cobalah hingga diri kita menjadi siap.

​Penulis: Sofi Indra

Editor: (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article