Tertegun di Hadapan Blue Mosque Istanbul, Kepala SMK Mudisa Petik Teladan Abadi Sultan Ahmed I

Must read

- Advertisement -

Istanbul, wartapoint — Lawatan Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK Mudisa), Irvandy Andriansyah, S.T., M.T., di Istanbul, Turkiye, menghadirkan gelombang renungan spiritual yang mendalam. Pada 8 November 2026, ia berkesempatan mengunjungi salah satu mahakarya arsitektur Islam paling ikonik di dunia: Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal sebagai Blue Mosque (Masjid Biru).

​Berdiri megah dengan enam menara yang menjulang dan kubah bertingkat, masjid yang telah berusia lebih dari empat abad ini terletak berhadapan langsung dengan Hagia Sophia. Lanskap kawasan Sultanahmet tersebut menyajikan harmoni dua bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan agung peradaban Islam di kancah global.

​Warisan Abadi dari Sang Pemimpin Muda

​Masjid Sultan Ahmed dibangun atas perintah Sultan Ahmed I pada tahun 1609 dan rampung pada kurun 1616–1617, di masa kepemimpinannya yang masih relatif muda. Rancangan megah ini dipercayakan kepada Sedefkâr Mehmed Ağa, murid dari arsitek legendaris Kesultanan Utsmaniyah, Mimar Sinan.

​Sultan Ahmed I wafat pada 1617, tak lama setelah masjid kebanggaannya berdiri. Namun, cita-cita besar sang sultan untuk menghadirkan pusat peribadatan dan peradaban Islam terus hidup, melampaui batas usianya yang singkat, hingga kini dikagumi jutaan pengunjung dari seluruh penjuru dunia.

​Nama “Blue Mosque” sendiri disematkan dunia internasional karena interior masjid yang diselimuti lebih dari 20.000 keping ubin keramik Iznik berwarna biru. Cahaya matahari yang memantul melalui ratusan jendela mempertegas keindahan ornamen kaligrafi dan motif tulip khas Utsmaniyah di dalamnya.

​Refleksi dan Makna Pembangunan Generasi

​Bagi Irvandy, lawatan ke Blue Mosque bukan sekadar kunjungan wisata sejarah, melainkan momentum introspeksi diri yang kuat. Ia terharu menyaksikan bagaimana karya besar para pemimpin dan pekerja masa lalu masih memberikan manfaat luas hingga hari ini.

“Saya berpikir, kelak kita semua juga akan meninggalkan dunia ini. Jabatan akan berakhir, usia akan bertambah, dan kehidupan akan sampai pada waktunya. Tetapi apa yang sudah kita lakukan untuk agama, pendidikan, anak-anak, dan masyarakat? Apakah kita meninggalkan sesuatu yang bermanfaat?” ujar Irvandy.

​Ia menegaskan, kendati manusia tidak mampu membangun fisik megah seperti Blue Mosque, setiap pendidik memiliki tanggung jawab untuk membangun generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat.

​Semangat kepemimpinan dan visi jangka panjang Sultan Ahmed I tersebut dibawanya pulang untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan di SMK Mudisa Surabaya. Irvandy bertekad membawa sekolah yang dipimpinnya tidak sekadar mengejar prestasi fisik, melainkan berorientasi pada pembentukan karakter siswa yang memiliki wawasan global, keterampilan unggul, serta tetap memegang teguh identitas keislaman.

​”Anak-anak kita harus punya mimpi besar. Kuasai teknologi, bahasa asing, keterampilan, dan ilmu pengetahuan. Tetapi jangan pernah meninggalkan salat, akhlak karimah, kejujuran, amanah, serta kecintaan kepada agama dan bangsa,” pungkasnya.

​Perjalanan ke Istanbul mengajarkan sebuah pelajaran berharga: bahwa bangunan megah dapat menjadi saksi zaman, namun karya terbaik yang ditinggalkan manusia bagi peradaban adalah generasi yang berkarakter dan berdaya guna bagi sesama. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article