Sajadah yang Tak Lagi Basah: Pesan Mendalam Ketua Takmir Al-Azhar Jelang Akhir Ramadhan

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Guratan kesedihan sekaligus harapan terpancar dari wajah H. Sutikno, S.Sos, M.H., Ketua Takmir Masjid Al-Azhar, saat memberikan tausiyah reflektif di hadapan jamaah. Mengangkat tema filosofis “Sajadah yang Tak Lagi Basah,” ia mengingatkan agar kualitas takwa seorang mukmin tidak ikut “berpamitan” seiring berlalunya bulan suci Ramadhan.

​Menurut Sutikno, bagi seorang mukmin sejati, berakhirnya Ramadhan bukanlah garis finis ibadah, melainkan garis start dari ujian kehidupan yang sesungguhnya di bulan-bulan berikutnya.

Waspadai Fenomena Ibadah Musiman

​Ia menyoroti fenomena “ibadah musiman” yang kerap menjangkiti umat. Semangat yang membara selama Ramadhan seringkali meredup seketika saat takbir Idul Fitri berkumandang.

“Tanda diterimanya amalan Ramadhan seseorang adalah ketika ia bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya. Ramadhan adalah madrasah rohani. Jika kita lulus, maka perilaku di luar sekolah harus mencerminkan ilmu yang telah didapatkan,” ujarnya tegas.

Peta Jalan Menjaga Spirit Takwa

​Agar api istiqomah tetap menyala di dalam dada, Sutikno membagikan lima langkah strategis bagi jamaah untuk mengarungi bulan Syawal dan seterusnya, yakni;

  1. Menyempurnakan dengan Puasa Syawal Sesuai sunnah Rasulullah SAW, beliau mengajak jamaah menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawal. “Ini adalah bentuk syukur dan penyempurna, yang nilainya setara dengan berpuasa setahun penuh,” jelasnya mengutip HR. Muslim.
  2. Menjaga Ritme Istiqomah Ia menekankan bahwa Allah mencintai amalan yang konsisten meski sedikit. Beliau berpesan agar mushaf Al-Qur’an tidak kembali berdebu dan masjid tetap makmur oleh shalat berjamaah serta sedekah.
  3. Memperbanyak Istighfar dan Doa Mengutip Surat Nuh ayat 10 dan Al-Maidah ayat 2, Sutikno mengingatkan bahwa para ulama salaf terdahulu pun sangat khawatir apakah amal mereka diterima. “Teruslah memohon ampun atas kekurangan selama Ramadhan dan berdoa agar setiap sujud kita diterima-Nya.”
  4. Manifestasi Syukur dalam Amal Sholeh Mengingat tidak semua orang diberikan usia untuk bertemu Ramadhan, rasa syukur harus diwujudkan dengan peningkatan amal di hari-hari biasa, sebagaimana janji Allah dalam Surat Ibrahim ayat 7.

Momentum Ketaatan Baru

​Menutup pesannya, Sutikno mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kelahiran kembali dalam ketaatan, bukan kembali pada kebiasaan maksiat yang lama.

​”Mari kita buktikan bahwa takwa kita tidak hanya hidup saat perut lapar di siang hari Ramadhan, tapi tetap tegak berdiri di bulan-bulan lainnya,” pungkasnya. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article