Surabaya, wartapoint – Keberagaman Indonesia kembali menghadapi momentum refleksi yang mendalam melalui sebuah esai yang menggugah karya Muchamad Arifin, Kabid Penelitian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur. Dalam tulisannya, Arifin menyoroti fenomena langka ketika Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri jatuh dalam waktu yang berdekatan—sebuah pertemuan antara keheningan total dan kegembiraan spiritual.
Arifin menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar urutan di kalender, melainkan ujian nyata bagi kedewasaan spiritual dan sosial bangsa Indonesia.
Dua Jalan Menuju Kesucian yang Sama
Meskipun dirayakan dengan cara yang kontras, Arifin melihat adanya benang merah yang kuat antara kedua hari besar tersebut: kembali kepada kesucian.
- Nyepi (Jalan Keheningan): Melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Mengutip Bhagavad Gita (VI:10), Arifin menekankan pentingnya mengendalikan pikiran dan membebaskan diri dari keinginan duniawi demi mencapai keseimbangan hidup.
- Idul Fitri (Jalan Kemenangan): Setelah sebulan penuh ditempa di bulan Ramadan, umat Islam menyambut hari kemenangan dengan gema takbir dan silaturahmi. Di balik perayaan tersebut, terdapat nilai luhur tentang memaafkan dan menyucikan hati.
Ujian Toleransi: Menjaga Perasaan di Atas Ego
Tantangan nyata muncul ketika satu pihak menjalankan hening total sementara pihak lain merayakan kemenangan. Arifin mengajak masyarakat untuk merenungkan beberapa poin krusial:
- Mampukah kita meredam ego demi ketenangan saudara kita?
- Mampukah kita merayakan tanpa melukai perasaan sesama?
- Dapatkah kita tetap hening tanpa menghakimi kegembiraan orang lain?
Ia mengutip penggalan QS. Al-Kafirun: 6, “Lakum dinukum wa liya din” (Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku), bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai pengakuan atas ruang hidup bersama yang damai.
“Lulusnya kita dalam kehidupan berbangsa bukan diukur dari seberapa keras kita menyuarakan keyakinan, tetapi seberapa lembut kita menjaga perasaan,” tulis Arifin dalam pesannya.
Harapan untuk Generasi Masa Depan
Penutup dari tulisan tersebut membawa pesan optimistis bahwa jika harmoni ini terjaga, Indonesia telah berhasil menemukan jati dirinya yang asli. Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan spiritual yang menguatkan fondasi negara.
Momen pertemuan Nyepi dan Idul Fitri ini diharapkan melahirkan generasi yang tidak hanya taat secara ritual keagamaan, tetapi juga matang dalam menghargai kemanusiaan. (yupan)






