Menjadi “Pemimpin Payung”: Pesan H. Sutikno di Tengah Riuh Perbedaan Medsos

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Di tengah riuhnya jagat media sosial yang sering kali menjadi panggung saling silang pendapat dan pencarian pembenaran sepihak, seorang tokoh masyarakat dan agama asal Surabaya, H. Sutikno, S.Sos, M.H., membagikan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat kepemimpinan.

​Ia menyoroti fenomena pimpinan yang kerap kali “mengobral” pernyataan sehingga justru memicu kegaduhan. Sebagai penawarnya, Sutikno memperkenalkan filosofi “Pemimpin Payung”.

Kepemimpinan di Tengah Cuaca Sosial yang Tak Menentu

​Sutikno mengibaratkan kehidupan bermasyarakat seperti cuaca yang tidak menentu, terkadang terik menyengat, namun di lain waktu hujan badai disertai petir datang melanda. Dalam dinamika ini, perbedaan pandangan adalah hal yang mutlak, layaknya arah angin yang berubah-ubah.

​”Disinilah kepercayaan diri seorang pemimpin diuji. Bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang tetap tegak berdiri di tengah keberagaman,” ungkapnya kepada awak media wartapoint.id via WhatsApp, Senin (23/3/2026).

Tiga Pilar Utama Pemimpin Sejati

​Untuk menghadapi “mendung gelap” di masyarakat, Sutikno merumuskan tiga poin utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya;

  1. Menghargai Keberagaman: Kepercayaan diri sejati tidak lahir dari kesombongan, namun dari kemampuan untuk tidak merasa terancam oleh perbedaan. Pemimpin harus mampu menaungi berbagai pemikiran tanpa harus memihak secara subjektif.
  2. Ketenangan dalam Badai: Saat terjadi perselisihan, pemimpin dilarang bersikap reaktif atau mudah goyah. Fokus utama harus tetap pada perlindungan kolektif, bukan pada ego pribadi.
  3. Menemukan Titik Temu: Di atas segala perbedaan pendapat, tujuan akhir yang harus dicapai adalah kerukunan dan kemajuan bersama. Keselamatan seluruh masyarakat harus menjadi prioritas di atas keselamatan diri sendiri.

Filosofi Payung: Sederhana Namun Melindungi

​Sebagai penutup refleksinya, Sutikno mengajak para pemimpin untuk mengambil pelajaran dari sebuah payung. Meski terlihat sederhana dan tidak mencolok, payung hadir sebagai solusi nyata di saat dibutuhkan.

“Jadilah pemimpin seperti payung; sederhana namun bermanfaat. Tidak perlu mencolok, tetapi harus mampu memberi perlindungan dan tetap tegak di tengah hujan perbedaan untuk memberi keteduhan bagi sekitarnya,” pungkasnya.

​Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat, terutama para pemangku kebijakan, bahwa kepemimpinan yang efektif bukan diukur dari banyaknya statemen di media sosial, melainkan dari kedamaian yang dirasakan oleh mereka yang dipimpin. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article