Surabaya, wartapoint – Semangat Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk memperkuat ikatan spiritual dan sosial. Hal inilah yang melandasi Masjid Nurul Ilmi SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya saat menggelar Kajian Halalbihalal pada Senin (30/3/2026).
Mengangkat tema “Semangat Idul Fitri untuk Membangun Sinergi dan Harmoni,” acara ini menghadirkan pakar pengembangan SDM, Dr. H. Sholihin Fanani, M.PSDM., sebagai narasumber utama. Suasana khidmat langsung terasa sejak awal acara melalui sesi refleksi diri yang menyentuh sanubari.
Refleksi Batin dan Pembersihan Jiwa
Sholihin mengawali kajian dengan mengajak seluruh peserta memejamkan mata, membayangkan momen tulus meminta maaf kepada orang-orang terkasih; orang tua, guru, hingga rekan sejawat. Untuk mendukung ketenangan batin, beliau memperkenalkan teknik pernapasan tiga kali yang diiringi lantunan istigfar.
”Allah tidak melihat rupa dan pakaianmu, melainkan melihat hati dan amal perbuatannya,” ujar Sholihin mengutip Hadits Riwayat Muslim, menekankan bahwa kualitas batin adalah fokus utama pasca-Ramadan.
Mengenal Hakikat Puasa dan Nafsu Manusia
Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa puasa adalah madrasah untuk mengendalikan empat jenis nafsu manusia:
- Nafsu Ketuhanan
- Nafsu Setan
- Nafsu Hewan
- Nafsu Kekerasan
Untuk membersihkan jiwa dari dominasi nafsu yang buruk, Sholihin menawarkan tiga langkah konkret: berhenti melakukan keburukan, konsisten memulai kebaikan, dan memperdalam pengenalan kepada Sang Pencipta.
”Pendidikan Islam melalui puasa seharusnya melahirkan pribadi yang cerdas pikirannya, bersih jiwanya, cerdas hatinya, dan dekat dengan Tuhannya,” tambahnya.
Membangun Sinergi di Lingkungan Sekolah
Kajian ini tidak hanya bicara soal individu, tetapi juga harmoni komunal. Peserta didorong untuk menjaga nilai-nilai Istiqamah (konsistensi), sinergi, komunikasi, kolaborasi, inspirasi, dan simpati dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Respons positif datang dari berbagai kalangan. Mohammad Aby Ramadhan Nusi, siswa kelas X-8, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang amalan yang harus dijaga meski Ramadan telah berlalu.
Senada dengan itu, Bayu Destry Ardyansyah, S.E., salah satu tenaga pendidik, mengapresiasi metode penyampaian yang interaktif. “Materi ini mengingatkan kita untuk tetap istiqamah. Penyampaiannya sangat mudah diterima baik oleh siswa maupun guru,” ungkapnya.
Acara ditutup dengan harapan besar agar seluruh keluarga besar Smamda Surabaya mampu meningkatkan kualitas diri secara spiritual dan sosial, menciptakan lingkungan sekolah yang penuh harmoni dan prestasi.
(Nizam & Ratna/Red)




