
Surabaya, wartapoint – Suasana syahdu dan penuh haru menyelimuti halaman SD Mujahidin 2 Surabaya pada Jumat malam (10/04/2026). Setelah vakum selama hampir 11 tahun, tradisi doa bersama yang menghadirkan seluruh wali murid kelas 6 akhirnya kembali digelar.
Kegiatan ini merupakan puncak dari agenda Pesantren Weekend, sebuah program intensif yang dirancang sebagai bekal spiritual bagi para siswa sebelum menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang dijadwalkan pada 20 April mendatang.
Menghidupkan Tradisi yang Sempat Terhenti
Momen ini terasa sangat istimewa bagi keluarga besar sekolah. Tradisi doa bersama ini terakhir kali dilaksanakan saat era Ujian Nasional (UN) masih diberlakukan lebih dari satu dekade lalu. Kini, seiring dengan kembalinya skema ujian nasional, pihak sekolah memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut sebagai bentuk penguatan mental dan spiritual siswa.
Muhasabah Diri: Membasuh Dosa Lewat Air Mata
Sesi yang paling menguras emosi dalam rangkaian acara ini adalah Muhasabah Diri. Di bawah temaram lampu halaman sekolah, para siswa diajak untuk merenungkan kembali perjalanan mereka selama enam tahun menuntut ilmu, terutama mengenai hubungan mereka dengan orang tua dan guru.
Isak tangis pecah ketika para siswa bersimpuh di hadapan orang tua masing-masing. Dalam suasana yang penuh rasa haru, mereka memohon maaf atas segala kesalahan dan meminta doa restu. Momen ini menjadi pengingat bagi anak-anak bahwa kecerdasan otak tidak akan berarti tanpa keridaan orang tua sebagai kunci utama kesuksesan.
Pesan Kepala Sekolah: Adab di Atas Segalanya
Kepala SD Mujahidin 2 Surabaya, Ustadz Suhadak, S.Ag., M.Pd., memberikan pesan mendalam yang menyejukkan hati. Beliau menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus selalu beriringan dengan adab yang mulia.
“Ujian pada 20 April nanti hanyalah satu tahap kecil. Yang terpenting adalah bagaimana kalian menjaga perilaku (akhlaqul karimah) terhadap orang tua dan guru. Teruslah rajin belajar, namun jangan lupa bahwa hasil terbaik datang dari kerja keras yang dibarengi doa dan restu orang tua,” ujar Ustadz Suhadak.
Harapan Pasca Pesantren Weekend
Melalui kegiatan Pesantren Weekend ini, sekolah berharap para siswa kelas 6 tidak hanya siap secara materi pelajaran, tetapi juga memiliki:
- Kepercayaan diri yang tinggi dalam menghadapi soal.
- Ketenangan hati yang bersumber dari kemantapan spiritual.
- Kesiapan mental untuk melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya dengan karakter yang kuat.
Dengan berakhirnya doa bersama ini, langkah para siswa menuju TKA kini tidak hanya dibekali dengan tinta dan kertas, tetapi juga dengan restu dan doa yang melangit dari orang-orang tercinta. (Rudi/yupan)





