Surabaya, wartapoint – Gelaran tahunan Pawai Bunga dan Parade Budaya Surabaya Vaganza 2026 kembali menyedot perhatian publik di sepanjang jalan protokol Kota Surabaya, Sabtu (16/5/2026). Di antara barisan peserta, kendaraan hias milik PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menjadi salah satu yang memukau penonton melalui suguhan visual bertajuk “Harmony of Ocean”.
Tema tersebut diangkat bukan sekadar sebagai pemanis parade. Lewat rancangan estetisnya, Pelindo mencoba menyuarakan narasi besar mengenai laut sebagai ruang kehidupan bersama yang harus dijaga dan diwariskan lintas generasi.
Secara filosofis, konsep ini memadukan empat elemen utama, yakni kekayaan bawah laut (The Glowing Coral Garden), kesadaran manusia (The Guardian of the Sea), kearifan leluhur Nusantara (Batara Baruna), serta visi masa depan yang terinspirasi dari keselarasan alam (Avatar Pandora Forest).
Refleksi Ekologis di Atas Roda
Desain mobil hias Pelindo mentransformasikan kendaraan menjadi replika ekosistem laut yang hidup. Ornamen terumbu karang yang berkilau dipadukan dengan representasi biodiversitas laut Indonesia. Di tengah instalasi tersebut, hadir figur The Guardian of the Sea sebagai simbol pengingat akan tanggung jawab manusia sebagai pelindung samudra.
Sisi budaya Nusantara juga tidak ditinggalkan. Kehadiran visual tokoh mitologi Batara Baruna merepresentasikan kebijaksanaan lokal dalam menjaga keseimbangan alam. Sementara itu, gambaran masa depan diwujudkan lewat konsep hutan fiksi Avatar, yang dikontekstualisasikan dengan keberadaan ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir.
Sub Regional Head Pelindo Jawa, Purwanto Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa konsep ini berkelindan erat dengan identitas Pelindo sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang berbasis maritim.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor maritim, fokus kami tidak boleh hanya tertuju pada aktivitas ekonomi belaka, melainkan juga pada keberlanjutan ekosistem. Melalui momentum ini, kami mengajak masyarakat untuk memandang laut sebagai sumber kehidupan yang wajib kita rawat bersama,” ujar Purwanto.
Kampanye Pelabuhan Hijau Melalui Aksi Nyata
Partisipasi Pelindo Group—yang melingkupi Pelindo Regional 3, SPTP, TPS, TTL, BJTI, PMS, dan PDS—tidak berhenti pada parade visual. Di sepanjang rute jajaran pawai, mereka mengintegrasikan aksi edukasi lingkungan melalui kegiatan plogging atau memungut sampah sambil berjalan kaki.
Sekretaris Perusahaan PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Erika Asih Palupi, menegaskan bahwa aksi bersih-bersih ini merupakan kepanjangan tangan dari kampanye green port (pelabuhan ramah lingkungan) yang selama ini diimplementasikan di area operasional.
”Semangat pelabuhan hijau ini ingin kami bawa langsung ke tengah masyarakat. Kami ingin menanamkan pemahaman kolektif bahwa langkah besar menjaga laut selalu dimulai dari tindakan sederhana di darat, seperti tidak membuang sampah sembarangan,” kata Erika.
Sebagai simbolisasi dari komitmen terhadap kelestarian alam tersebut, Pelindo juga menyerahkan tanaman hias berupa bonsai dan anggrek selama perhelatan. Penyerahan ini menjadi representasi dari keseimbangan antara keindahan kota dan keberlanjutan lingkungan hidup yang diidamkan di masa depan. (Armand)






