Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Wednesday, June 3, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Menggagas “Green Qurban”: Menjaga Kelestarian Bumi lewat Ibadah Idul Adha

Must read

Jakarta, wartapoint — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah menjadi pijakan penting bagi gerakan dakwah lingkungan di Indonesia. Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Program Kemaslahatan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menginisiasi program “Green Qurban 1447 H”. Mengusung tema “Qurban Berkah, Lingkungan Lestari”, program ini mengintegrasikan nilai-nilai ibadah ritual dengan tanggung jawab ekologis.

​Rangkaian program ini berlangsung selama tiga hari, 28–30 Mei 2026 (bertepatan dengan 11–13 Dzulhijjah 1447 H), dan tersebar di lima provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jambi, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, dan Banten.

​Pelaksanaan perdana dimulai simultan pada Kamis (28/5/2026) di Depok (Jawa Barat) bersama PCM Limo-Cinere, di Jambi bersama Muhammadiyah Boarding School (MBS) Sungai Gelam, dan di Palu (Sulawesi Tengah) bekerja sama dengan PRM Tanamodindi. Selanjutnya, program bergeser ke Pesantren Hizbul Wathan Muhammadiyah Saniangbaka (Sumatera Barat) pada Jumat (29/5/2026), dan berakhir di Muhammadiyah Leuwidamar, Lebak (Banten) pada Sabtu (30/5/2026).

​Empat Prinsip Ramah Lingkungan

​Ketua MLH PP Muhammadiyah menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta (hablum minallah), sesama manusia (hablum minannas), dan alam semesta (hablum minal ‘alam). Melalui “Green Qurban”, proses penyembelihan tidak sekadar menggugurkan kewajiban syariat, tetapi juga menuntut pertanggungjawaban terhadap alam.

​”Green Qurban Berkemajuan hadir sebagai bentuk ikhtiar untuk memastikan bahwa keberkahan qurban juga dirasakan oleh alam,” ujarnya.

​Secara teknis, terdapat empat prinsip utama yang diterapkan dalam program ini:

  1. Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare): Memastikan hewan qurban diperlakukan dengan baik dan tidak mengalami stres berlebihan sebelum disembelih.
  2. Pengelolaan Limbah Organik: Darah dan kotoran hewan tidak dibuang sembarangan atau dialirkan ke sungai, melainkan dikubur sesuai standar kesehatan agar tidak mencemari tanah dan sumber air bersih.
  3. Reduksi Sampah Plastik: Distribusi daging qurban tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai, melainkan beralih ke kemasan ramah lingkungan.
  4. Kompensasi Ekologis: Di setiap lokasi, kegiatan penyembelihan diakhiri dengan penanaman pohon. Langkah ini menjadi simbol pemulihan atas sumber daya alam yang digunakan selama proses peternakan.

​Sekretaris MLH PP Muhammadiyah, Djihadul Mubarok, saat ditemui di Depok, menjelaskan bahwa menanam pohon pasca-qurban adalah implementasi dari konsep keadilan ekologis (ecological justice).

​”Ini pesan bahwa manusia tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga memiliki kewajiban untuk mengembalikannya. Inilah bentuk nyata dari tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi,” kata Djihadul.

​Edukasi dan Antusiasme Warga

​Pendekatan baru ini mendapat sambutan positif dari warga di berbagai daerah. Ketua PCM Limo-Cinere, Giman Muslih Amrulloh, mengakui program ini membuka perspektif baru bagi masyarakat yang selama ini hanya berfokus pada aspek pembagian daging.

​Hal senada diungkapkan oleh Kepala SMK Muhammadiyah Leuwidamar, Haryadi, yang menilai kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran berharga bagi generasi muda untuk memahami dimensi ekologis dari sebuah ibadah.

​Apresiasi juga mengalir dari daerah lain. Tokoh warga Muhammadiyah Sumatera Barat, Yefrimon, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan BPKH dan PP Muhammadiyah yang memusatkan kegiatan di Pesantren HW Saniangbaka. Sementara itu, Ketua MLH PWM Sulawesi Tengah, Zulandri, dan Pengurus PWM Jambi, Agus Setiyono, berharap esensi “Green Qurban” dapat bertransformasi menjadi gerakan nasional yang mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola hari besar keagamaan.

​Mendukung Kampanye “Green Hajj” Global

​Di sisi lain, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melihat program ini memiliki korelasi kuat dengan kampanye makro yang sedang digaungkan secara global, yaitu Green Hajj (Haji Hijau).

​Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, menyampaikan bahwa “Green Qurban” menjadi momentum penting untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur haji ke dalam aksi nyata yang berdampak langsung pada masyarakat dan lingkungan.

​”BPKH mendukung program ini karena mampu menghadirkan manfaat sosial, memperkuat literasi keuangan haji, sekaligus membuktikan bahwa nilai manfaat dana haji dikelola secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kemaslahatan yang edukatif serta inklusif,” kata Harry.

​Harry berharap kolaborasi strategis antara BPKH dan Muhammadiyah ini terus diperkuat. Melalui “Green Qurban”, umat Islam Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia, membuktikan bahwa kesalehan spiritual dan kesalehan lingkungan hidup adalah dua hal yang saling menguatkan demi bumi yang berkelanjutan. (Red)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article