Bogor, wartapoint — Upaya pencegahan radikalisme di Jawa Timur menunjukkan tren positif. Berdasarkan hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025, angka potensi radikalisme di wilayah tersebut tercatat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, masyarakat diimbau tidak lengah. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur mengingatkan bahwa ancaman sebaran ideologi kekerasan kini bergeser secara masif ke ruang digital.
Temuan tersebut menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) yang diselenggarakan oleh BNPT bersama FKPT Jawa Timur di Bogor, Senin (15/6/2026). Forum internal ini ditujukan untuk memetakan hasil survei IPR sekaligus merumuskan strategi penanggulangan yang lebih taktis.
Tren Penurunan Indeks
Dalam pemaparannya, Peneliti FKPT Jawa Timur, Dr. Cand. Muchamad Arifin, M.Ag., mengungkapkan bahwa Indeks Potensi Radikalisme Jawa Timur pada tahun 2025 berada di angka 11,9. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang bertengger di angka 13,3.
Menurut Arifin, penurunan ini dipicu oleh membaiknya dua dimensi utama di tengah masyarakat, yakni dimensi pemahaman dan dimensi sikap terhadap isu-isu radikalisme.
”Capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai program edukasi, literasi, serta penguatan wawasan kebangsaan yang digalakkan oleh berbagai pihak mulai memberikan dampak positif di masyarakat,” ujar Arifin.
Kerentanan di Ruang Digital
Arifin menggarisbawahi bahwa tantangan ke depan justru semakin kompleks. Pola penyebaran paham radikal kini tidak lagi dominan melalui tatap muka, melainkan bertumpu pada kecanggihan teknologi digital.
Hasil survei menangkap tingginya aktivitas masyarakat Jawa Timur dalam mengakses dan menyebarkan konten keagamaan melalui berbagai platform media sosial, seperti:
- YouTube
- TikTok
Tingginya penetrasi ini menjadikan ruang digital sebagai arena krusial yang mampu membentuk cara pandang sekaligus perilaku masyarakat secara instan.
“Walaupun di survei mengalami penurunan, tapi kita tetap harus waspada. Propaganda saat ini berjalan secara masif,” tegas Arifin.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan literasi digital, kemampuan menyaring informasi (cross-checking), serta penyebaran narasi keagamaan yang moderat sebagai daya tangkal utama masyarakat.
Instrumen Kebijakan dan Benteng Keluarga
Hal senada diungkapkan oleh Direktur Pencegahan BNPT RI yang diwakili oleh Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat, Kolonel Sus Dr. Harianto, M.Pd. Ia menegaskan bahwa hasil Survei IPR merupakan instrumen penting bagi pemerintah.
”Survei ini menjadi dasar untuk memetakan kerentanan masyarakat sekaligus merumuskan strategi pencegahan yang lebih efektif di tengah pesatnya perkembangan ruang digital,” kata Harianto.
Sementara itu, Narasumber Nasional Survei IPR, Lilik Purwandi, menambahkan bahwa pertahanan terbaik dimulai dari unit terkecil. Ia mengingatkan pentingnya memperkuat empat pilar utama, yakni:
- Ketahanan keluarga
- Literasi digital
- Wawasan kebangsaan
- Moderasi beragama
Sinergi Multi-Pihak
Merespons hasil tersebut, Ketua FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag., menyampaikan apresiasinya atas ruang kolaborasi yang diberikan BNPT RI. Forum KSK ini dinilai sangat strategis untuk menginternalisasi hasil riset langsung ke tingkat daerah agar program pencegahan bisa lebih tepat sasaran.
Husniyatus menekankan bahwa keberhasilan menekan angka radikalisme tidak bisa bertumpu pada satu instansi saja, melainkan membutuhkan kerja bersinergi pentahelix.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada BNPT RI, seluruh narasumber, peserta, serta semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga hasil Survei IPR Tahun 2025 dapat menjadi dasar penguatan program pencegahan radikalisme dan meningkatkan ketahanan masyarakat Jawa Timur dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital,” pungkasnya.
Melalui konsolidasi data ini, BNPT dan FKPT Jawa Timur berharap dapat melahirkan program preventif yang lebih taktis, sehingga masyarakat Jawa Timur kian tangguh, kritis, dan tidak mudah terombang-ambing oleh narasi ekstremisme berbasis kekerasan di dunia maya. (yupan)





