
Surabaya, wartapoint — Akhir tahun ajaran selalu menjadi momen krusial yang menjembatani evaluasi hasil belajar siswa dengan penguatan komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua. Nuansa adaptif sekaligus penuh kekeluargaan tersebut sangat terasa dalam agenda pembagian rapor akhir Tahun Ajaran 2025/2026 di MI Muhammadiyah 25 (MIM 25) Surabaya yang digelar selama dua hari, Jumat-Sabtu (19–20/6/2026).
Meski sempat diwarnai kendala teknis berupa pemadaman listrik masal di wilayah sekolah pada hari kedua, proses dialog antara wali kelas dan orang tua murid tetap berjalan lancar tanpa mengurangi esensi dari kegiatan tersebut.
Pembagian Bertahap dan Orientasi Program Sekolah
Guna menjaga ketertiban dan efektivitas komunikasi, pihak madrasah membagi agenda pengambilan rapor ke dalam dua gelombang.
- Jumat (19/6/2026): Penyerahan hasil belajar khusus untuk siswa kelas I dan II.
- Sabtu (20/6/2026): Penyerahan hasil belajar untuk siswa kelas III, IV, dan V.
Sebelum menerima laporan hasil belajar di ruang kelas masing-masing, para wali murid terlebih dahulu diwajibkan mengikuti sesi pengarahan kolektif. Sesi ini difungsikan sebagai ruang sosialisasi program kerja madrasah sekaligus bekal persiapan memasuki Tahun Ajaran 2026/2027.
Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi yang telah terbangun karib antara pihak sekolah dan keluarga siswa.
“Pendidikan anak tidak dapat berjalan maksimal tanpa dukungan keluarga. Semoga sinergi antara sekolah dan orang tua semakin kuat untuk mendampingi putra-putri kita menjadi generasi yang berakhlak, berprestasi, dan membanggakan,” ujar Ferry.
Dalam pemaparannya, Ferry juga mengumumkan rencana strategis sekolah terkait peningkatan sarana dan prasarana. Pada tahun ajaran depan, madrasah berkomitmen membangun sebuah aula pertemuan multifungsi yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran, pembinaan karakter, serta ruang pertemuan bersama masyarakat dan wali murid.
Penguatan Karakter dan Aturan Ekstrakurikuler
Selain rencana pengembangan fisik, penguatan karakter non-akademik juga menjadi sorotan utama. Wakil Kepala Madrasah, Ustadzah Fuadah, S.Pd., kembali menegaskan pentingnya kedisiplinan dan kepatuhan siswa terhadap tata tertib sekolah, termasuk pengawasan ketat terhadap jajanan di luar sekolah dan keseragaman atribut pakaian.
Terkait pengembangan minat dan bakat, Fuadah menjelaskan skema ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh peserta didik:
- Ekstrakurikuler Wajib: Tapak Suci dan Hizbul Wathan (HW). Aturan khusus diberlakukan untuk siswi yang mengikuti Tapak Suci, di mana penggunaan jilbab harus menyelaraskan dengan seragam resmi yang ditetapkan. Adapun HW mulai diwajibkan bagi siswa sejak menginjak kelas III.
- Ekstrakurikuler Pilihan: Setiap siswa diwajibkan memilih minimal dua jenis kegiatan di luar kelas yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.
Khidmat dalam Temaram Cahaya Gawai
Momen unik sekaligus menantang terjadi pada hari kedua pembagian rapor, Sabtu (20/6/2026). Sesaat setelah sesi pengarahan selesai dan orang tua mulai memasuki ruang kelas, aliran listrik di kawasan Sidotopo Wetan I Dalam mendadak padam akibat kebijakan pemadaman bergilir.
Kendati kondisi kelas seketika menjadi gelap dan gerah, proses administrasi dan konsultasi tidak terhenti. Para guru dan wali murid secara spontan memanfaatkan lampu kilat (flashlight) dari telepon genggam masing-masing sebagai sumber penerangan darurat.
Uniknya, keterbatasan tersebut justru mencairkan suasana. Konsultasi akademis yang biasanya kaku berubah menjadi ruang diskusi yang lebih dekat, santai, dan kekeluargaan.
”Alhamdulillah, lampu padam tidak sedikit pun mengurangi semangat kami. Dengan cahaya dari HP, kami tetap bisa berdiskusi, bertanya, bahkan curhat-curhat ria dengan wali kelas tentang perkembangan anak. Suasananya justru terasa lebih dekat,” ungkap Mama Gibran, salah satu wali murid kelas V.
Hal senada sebelumnya juga diutarakan oleh Mama Azka, wali murid kelas II, yang mengapresiasi ruang dialog interaktif ini sebagai bekal bagi orang tua untuk memandu anak-anak mereka selama masa libur panjang sekolah.
Peristiwa di MIM 25 Surabaya ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak melulu bertumpu pada fasilitas fisik yang prima, melainkan pada kuatnya komitmen dan komunikasi yang konsisten antara madrasah dan lingkaran keluarga di rumah. (Siti Islaha)





