Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Thursday, June 25, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

KH Mas Mansur dan Sisi Gelap Penjara Koblen: Antara Sila Pertama dan Eksperimen Keji Penjajah

Must read

Surabaya, wartapoint – Nama KH Mas Mansur tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai bagian dari “Empat Serangkai” tokoh kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik figur publik yang dikenal sebagai pemikir ulung, terdapat kisah perjuangan yang pilu.

Dalam acara “Refleksi 130 Tahun KH Mas Mansur” yang dihelat Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) PDM Surabaya, Kamis (25/6/2026), memori kolektif tentang sang tokoh dibuka kembali. Diskusi tersebut mengungkap sisi humanis Mas Mansur yang jarang tersentuh buku sejarah.

Peran Besar di Balik Sila Pertama Pancasila

Banyak yang tahu Pancasila adalah konsensus para pendiri bangsa. Namun, pihak keluarga Mas Mansur mengungkap bahwa sang tokoh memiliki peran vital dalam perumusan sila pertama.

​”Sila pertama itu awalnya berbunyi ‘Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. Itu yang merumuskan Mas Mansur, bermula dari kalimat syahadat Asyhadu alla ilaha illallah,” ungkap perwakilan keluarga, Agus Rusidy.

Namun, demi menyatukan keberagaman dalam sebuah nation-state, Mas Mansur menunjukkan sikap kenegarawanan yang luar biasa. Ia tak egois. “Ketika diberi saran oleh Bung Karno, beliau akhirnya setuju mengubahnya menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ demi kepentingan yang lebih luas,” tambahnya.

Teror di Balik Tembok Penjara Koblen
Pengaruh besar Mas Mansur—baik di Muhammadiyah maupun dalam perumusan kemerdekaan di BPUPKI—menjadikannya target utama penjajah. Ia dianggap sebagai ancaman nyata bagi stabilitas kolonial, hingga akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Koblen.

Cucu Mas Mansur, Abdan Fikri Kirana, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan terkait masa penahanan kakeknya. Belanda disebut melakukan eksperimen tidak manusiawi untuk meruntuhkan fisik dan mental sang tokoh.

​”Mbah Mansur disuntik serum kera saat dipenjara di Koblen. Beliau sempat bercerita ini kepada istrinya. Kami keluarga menganalisis, ini dilakukan agar beliau sakit permanen dan tidak lagi menjadi ancaman bagi penjajah,” ujar Fikri.

Hari-Hari Terakhir Sang Pahlawan
Pasca-pembebasan, kondisi fisik dan mental Mas Mansur menunjukkan penurunan drastis. Perubahan perilaku yang tidak lazim menjadi saksi bisu betapa berat penderitaan yang dialami.

​”Suciati, cucu ke-4 Mbah Mansur, pernah bercerita kalau Mbah sering marah tanpa sebab hingga merusak rak buku kesayangannya setelah keluar dari penjara,” kenang Fikri.

​Setelah perjuangan panjang menahan sakit yang tak kunjung pulih, sang Pahlawan Nasional kebanggaan Surabaya ini akhirnya berpulang di tengah perawatan keluarga pada 25 April 1946.

​Refleksi ini bukan sekadar mengenang usia 130 tahun KH Mas Mansur, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun di atas pengorbanan yang melampaui batas-batas kemanusiaan. (Muhammad Miftahul Muslim)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article