
Surabaya, wartapoint – Mengusung jargon “Gowes Sehat, Ukhuwah Kuat, Ibadah Mantap”, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menggelar agenda Kopi Darat (Kopdar) Gowes Perdana pada Sabtu (11/7/2026) sore. Kegiatan bersepeda santai ini tidak sekadar menjadi ajang olahraga, melainkan sebuah refleksi historis bertajuk “Napak Tilas Muhammadiyah di Surabaya”.
Rombongan gowes mulai bergerak pada pukul 16.00 WIB dengan mengambil titik awal (start) di Pusat Dakwah Muhammadiyah (PUSDAM) Kota Surabaya yang terletak di Jalan Wuni No. 9. Dari sana, para peserta menyusuri jalanan kota menuju situs bersejarah Langgar Gipo di Jalan Kalimas Udik No. 51, sebelum akhirnya menyentuh garis finish di Masjid Taqwa Kalimas Udik, Surabaya.
Setibanya di lokasi akhir, rangkaian acara dilanjutkan dengan shalat Isya berjamaah dan ditutup dengan sesi Sarasehan Sejarah. Dua pembicara mengulas memori kolektif pergerakan Islam di Surabaya, yakni Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) PDM Surabaya, Drs. H. Andi Hariyadi, serta Ketua Yayasan KH Mas Mansur, H. Agus Rusidy, yang mengupas sejarah panjang Masjid Taqwa Kalimas Udik.
Pesan dan Harapan dari Akar Rumput
Kegiatan ini pun mendapatkan apresiasi dari tingkat pimpinan ranting. Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Simomulyo Baru, Eko Margono, yang turut serta mengayuh sepeda sepanjang rute napak tilas, menyampaikan bahwa agenda seperti ini memiliki esensi yang sangat mahal bagi para kader di akar rumput.
”Kegiatan ini bukan sekadar mengayuh sepeda bersama, melainkan cara kita menyerap energi perjuangan para pendahulu. Melalui rute yang kita lalui hari ini, kami diingatkan kembali betapa berat dan luar biasanya fondasi dakwah yang diletakkan oleh para tokoh Muhammadiyah di Surabaya pada masa lampau,” ujarnya.
Eko Margono juga menyampaikan harapan besarnya agar nilai-nilai sejarah ini tidak berhenti pada generasi tua. Ia berharap Kopdar Gowes berbalut sejarah ini bisa menjadi jembatan bagi generasi muda Muhammadiyah untuk lebih mencintai organisasi dan menghidupkan spirit perjuangan lokal.
”Harapan kami di tingkat ranting, kegiatan edukatif dan rekreatif seperti ini bisa dilaksanakan secara konsisten. Dari sejarah kita belajar konsistensi, dari gowes kita mendapat kesehatan fisik, dan dari sarasehan seperti ini ukhuwah antar-pimpinan serta kader se-Surabaya bisa semakin solid dan rekat,” tambahnya.

Menyusuri Jejak Pergerakan di Surabaya
Dalam sesi sarasehan, Drs. H. Andi Hariyadi memaparkan betapa strategisnya kawasan Kalimas Udik dalam lini masa dakwah KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur di Surabaya. Kawasan ini merupakan salah satu episentrum pergerakan pemikiran Islam modernis pada awal abad ke-20.
Sementara itu, H. Agus Rusidy melengkapi narasi tersebut dengan mengulas peran Masjid Taqwa Kalimas Udik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga menjadi konsolidasi ummat, tempat bertemunya para tokoh bangsa, sekaligus benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Melalui perpaduan olahraga dan edukasi sejarah ini, PDM Surabaya berharap jargon Gowes Sehat, Ukhuwah Kuat, Ibadah Mantap dapat benar-benar termanifestasi dalam gerak langkah konkret seluruh kader Muhammadiyah di Kota Pahlawan. (yupan)





