Menumbuhkan Kemandirian lewat Sepasang Ikan Hias di MPLS SD Muhammadiyah 10 Surabaya

Must read

Surabaya, wartapoint — Hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) pada Selasa (14/7/2026) mendadak riuh oleh tawa ratusan siswa baru. Berbeda dari kesan hari pertama yang biasanya sarat akan kecanggungan, halaman sekolah ini justru disulap menjadi arena belajar yang interaktif dan menyenangkan.

​Pihak sekolah menggelar fun game menangkap ikan hias langsung dari bak-bak air yang telah disiapkan di area terbuka. Riuh rendah suara anak-anak saling bersahutan saat jemari mungil mereka berusaha mengejar ikan-ikan kecil yang berenang lincah.

​”Hore, aku dapat yang hijau!” teriak salah satu siswa dengan bangga sembari menunjukkan kantong plastik berisi air.

​Aktivitas menangkap ikan ini bukan sekadar permainan pengisi waktu. Kepala SD Muhammadiyah 10 Surabaya mengemas kegiatan ini sebagai media pembelajaran kontekstual yang mengajarkan rasa tanggung jawab dan kasih sayang kepada sesama makhluk hidup sejak dini. Ikan-ikan hias yang berhasil ditangkap diperbolehkan dibawa pulang untuk dipelihara oleh masing-masing siswa di rumah.

​Memulai Hari dengan Kedekatan Spiritual

​Sebelum keseruan menangkap ikan dimulai, rangkaian kegiatan hari kedua MPLS di Mumtas tetap mengedepankan pembiasaan karakter religius. Pagi hari diawali dengan sambutan hangat dari para guru di gerbang sekolah, diikuti dengan pelaksanaan ibadah shalat dhuha berjamaah, zikir, serta doa bersama.

​Melalui rutinitas pagi ini, sekolah berupaya menanamkan nilai bahwa setiap langkah menuntut ilmu harus selalu diawali dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Suasana religius yang dikemas secara ramah anak ini perlahan mengikis rasa cemas siswa baru yang baru saja bertransisi dari jenjang taman kanak-kanak.

​Dorongan Mandiri dari Bunda PAUD

​Suasana MPLS hari kedua ini semakin berkesan dengan kehadiran Lurah Simokerto sekaligus Bunda PAUD Kelurahan setempat, Arief Insani, S.Kom. Di hadapan para siswa, Arief memberikan motivasi interaktif mengenai pentingnya membangun kemandirian di jenjang sekolah dasar.

​”Kalau sekarang sudah menjadi anak SD, berarti sudah mulai belajar mandiri. Orang tua cukup mengantar, tetapi tidak perlu menunggui di depan kelas. Harus berani masuk sendiri, makan sendiri, dan berani ke kamar mandi sendiri,” ujarnya.

​Pesan tersebut menjadi penekanan penting bagi fase transisi anak. Kemandirian yang ditekankan bukan berarti membiarkan anak tanpa pengawasan, melainkan melatih rasa percaya diri dan keberanian mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sosial yang baru.

​Dengan pendekatan yang humanis dan edukatif ini, SD Muhammadiyah 10 Surabaya berupaya menghapus stigma bahwa sekolah adalah tempat yang menegangkan bagi anak-anak baru. Sebaliknya, melalui memori sederhana membawa pulang ikan hias, sekolah diharapkan menjadi rumah kedua yang dinanti-nantikan kehadirannya oleh para siswa setiap pagi. (Abi Saffa)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article