
Surabaya, wartapoint – Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah yang masih marak terjadi melatarbelakangi institusi pendidikan untuk mengambil langkah preventif sejak dini. Salah satunya dilakukan oleh MI Muhammadiyah 28 Surabaya (MIM Dupan).
Memanfaatkan momentum Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA), pihak madrasah menggelar kegiatan Edukasi Anti-Bullying bagi para siswa baru di lingkungan sekolah, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini diinisiasi untuk menanamkan budaya saling menghargai sekaligus mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Menghadirkan Perspektif Psikologis
Untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan tepat sasaran, MIM Dupan menghadirkan psikolog Fenny Listiana Irmawati, S.Psi., M.Si. sebagai narasumber utama.
Dalam sesi materi yang berlangsung interaktif, Fenny menekankan bahwa bullying memiliki manifestasi yang luas dan tidak hanya terbatas pada kekerasan fisik.
“Bullying tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui perkataan, ejekan, pengucilan, maupun tindakan lain yang dapat menyakiti perasaan orang lain,” ujar Fenny di hadapan para siswa.
Ia menambahkan, kunci utama untuk memutus rantai perundungan di sekolah adalah dengan menumbuhkan rasa empati dan keberanian sikap sejak dini.
Para murid pun diedukasi untuk berani mengambil tindakan tegas: mengatakan tidak pada perundungan serta segera melaporkan kepada guru apabila melihat atau mengalami tindakan tidak menyenangkan tersebut.
Antusiasme Murid dan Penguatan Karakter Islam
Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana edukasi berlangsung dengan penuh antusias. Para siswa tampak aktif merespons pertanyaan dari narasumber, serta terlibat dalam diskusi kelompok mengenai cara menjadi teman yang baik dan saling mendukung satu sama lain.
Selain sebagai langkah preventif, kegiatan edukasi anti-perundungan ini juga difungsikan sebagai sarana penguatan karakter berbasis nilai-nilai Islam. Pihak sekolah berharap, nilai-nilai akhlak mulia, kasih sayang, dan toleransi dapat terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari para siswa.
Komitmen Mewujudkan Madrasah Ramah Anak
Melalui program ini, MI Muhammadiyah 28 Surabaya menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang kondusif. Budaya saling menghormati diharapkan mampu menstimulasi siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berprestasi, dan berkarakter.
Pihak madrasah juga menggarisbawahi bahwa terciptanya sekolah yang aman dan bebas dari perundungan tidak dapat bertumpu pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi dan komitmen kolektif yang kuat antara pihak sekolah, guru, murid, hingga orang tua demi mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (Tiris/yupan)





