Surabaya, wartapoint – Pembelajaran numerasi tidak selalu berlangsung di dalam kelas dengan buku dan lembar kerja. Di SD Muhammadiyah 16 Surabaya, penguatan kemampuan berhitung justru dikemas dalam kegiatan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang berlangsung aktif, komunikatif, dan penuh keceriaan di hall lantai 3 sekolah, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.30 WIB itu diikuti sebagian siswa kelas V sebagai bagian dari pembelajaran kokurikuler. Sementara dua kelas lainnya mengikuti program literasi, kemudian bergantian sesuai jadwal yang telah disusun sekolah.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Suyono, S.Si, mengatakan bahwa Hizbul Wathan di Sekolah Kreatif Baratajaya bukan hanya wadah pembentukan karakter, tetapi juga menjadi media penguatan materi pembelajaran di kelas.
“Kepanduan HW masuk dalam pembelajaran dan menjadi bagian kokurikuler untuk mempertajam pembelajaran akademik yang bersifat teoritis,” ujar Suyono.
Ia menjelaskan, sekolah mengombinasikan kegiatan HW dengan literasi agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang utuh.
“Untuk saat ini jadwal HW kami kombinasikan dengan literasi. Ada dua kelas mengikuti HW dan dua kelas lainnya mengikuti literasi,” jelasnya.
Pada pertemuan kali ini, pembelajaran diawali dengan materi Peraturan Baris-Berbaris (PBB) yang dipandu Ahmad Mahmudi, M.Pd, menggantikan pembina HW yang berhalangan hadir.
“Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI, anak-anak kami ajak berlatih baris-berbaris. Mereka belajar disiplin, kekompakan, dan kepemimpinan melalui latihan ini,” kata Mahmudi.
Setelah latihan PBB selesai, suasana pembelajaran berubah menjadi lebih dinamis. Mahmudi mengajak siswa mengikuti permainan numerasi yang menuntut kecepatan berpikir dan konsentrasi tinggi.
Dua kelompok, putra dan putri, saling bergantian menyebutkan urutan bilangan dengan suara lantang. Siapa yang terlambat atau salah menyebut angka harus keluar dari permainan, sementara kelompok yang mampu bertahan hingga akhir menjadi pemenang.
Menurut Mahmudi, permainan tersebut sengaja dirancang sebagai bentuk integrasi antara kepanduan dan pembelajaran akademik.
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa belajar matematika bisa dilakukan di mana saja. Melalui game ini mereka berlatih konsentrasi, kecepatan berpikir, kerja sama, sekaligus menguatkan kemampuan numerasi,” tuturnya.
Sebagai Sekretaris Kwartir Cabang Hizbul Wathan Ngagel, Mahmudi menilai pembelajaran kepanduan harus terus berkembang mengikuti kebutuhan pendidikan saat ini.
“HW bukan hanya soal tali-temali atau baris-berbaris. Nilai-nilai kepanduan bisa dipadukan dengan kompetensi akademik sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna,” tambahnya.
Suasana hall lantai 3 pun dipenuhi semangat. Gelak tawa, sorakan, dan tepuk tangan terdengar setiap kali permainan berlangsung. Meski bersifat kompetitif, seluruh siswa terlihat menikmati proses belajar.
Salah satu peserta, Syafiqa Azzalfa Dzatusy Syarifah, mengaku senang dengan model pembelajaran yang diterapkan.
“Aku senang bermain games, seru banget,” ujarnya singkat.
Melalui inovasi tersebut, SD Muhammadiyah 16 Surabaya menunjukkan bahwa pembelajaran kokurikuler dapat menjadi ruang kolaborasi antara pendidikan karakter dan kompetensi akademik. Hizbul Wathan tidak hanya membentuk pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab, tetapi juga menjadi sarana memperkuat numerasi melalui pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, dan menyenangkan. (yupan)






