Surabaya, wartapoint – Gemuruh naruko dari tarian Yosakoi dan harmoni angklung memang menjadi daya tarik penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Jumat (24/7/2026). Namun, di balik kemeriahan itu, tersimpan proses kaderisasi kepemimpinan yang memberi ruang kepada siswa untuk belajar memimpin secara langsung.
Sejak pukul 08.00 WIB, halaman Sekolah Kreatif Baratajaya dipenuhi antusiasme siswa. Acara diawali dengan pembacaan pantun oleh Gelsey Azalea Gandi dan Fatimah Nailah Rezani yang mengundang gelak tawa dan tepuk tangan dari peserta MPLS.
Suasana kemudian semakin semarak melalui penampilan komunitas Yosakoi dengan hentakan naruko yang dinamis, disusul permainan angklung yang menghidupkan suasana. Empat kelas I juga bergantian menampilkan hiburan dengan kostum penuh warna sebagai penutup rangkaian MPLS.
Di balik jalannya acara, para pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) KIDS tampak sibuk mengatur alur kegiatan. Mereka mengarahkan peserta, mendampingi siswa kelas I, mengoordinasikan penampilan, hingga memastikan dokumentasi berjalan sesuai rencana.
Ketua IPM KIDS sekaligus Leader of Student Lighthouse Team (SLhT), Noura Malia, mengatakan setiap anggota telah menerima tanggung jawab sesuai perannya.
“Panitia kegiatan adalah teman-teman pengurus IPM KIDS atau Student Lighthouse Team. Kami membagi tugas sejak awal agar semua mengetahui tanggung jawab masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap kelompok siswa kelas I didampingi oleh anggota IPM KIDS selama kegiatan berlangsung.
“Empat kelompok kelas I kami dampingi agar mereka merasa nyaman mengikuti acara. Dokumentasi juga sudah kami percayakan kepada Arsa Bima Alfiandra sehingga semua bisa fokus menjalankan tugasnya,” jelas Noura.
Menurutnya, pengalaman menjadi panitia memberikan pelajaran yang tidak diperoleh di ruang kelas.
“Kami belajar mengatur waktu, bekerja sama, berkomunikasi, dan menyelesaikan tugas sampai acara selesai. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya.
Guru kelas I, Fancy Anggraini Angwidya, S.Pd., mengapresiasi kemampuan para siswa dalam menjalankan amanah sebagai panitia.
“IPM KIDS di bawah koordinasi Noura Malia mampu mengorganisasi kegiatan dengan sangat baik. Mereka menunjukkan bahwa anak-anak sekolah dasar juga bisa memimpin ketika diberikan kepercayaan dan pendampingan,” katanya.
Fancy menilai keterlibatan siswa sebagai penyelenggara merupakan bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan sekolah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan memimpin, bekerja dalam tim, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya,” ujarnya.
Bagi SD Muhammadiyah 16 Surabaya, penutupan MPLS bukan hanya penanda berakhirnya masa pengenalan sekolah bagi peserta didik baru. Momentum tersebut menjadi wahana kaderisasi, tempat para pemimpin cilik belajar mengelola sebuah kegiatan, mengambil keputusan, dan melayani orang lain. Dari panggung sederhana di halaman sekolah, tumbuh pengalaman yang kelak menjadi bekal mereka memimpin di masa depan.
(Ahmad Mahmudi)






