Dari Gang Sempit hingga Sekolah Kreatif, Tradisi Menyambut Siswa Tetap Terjaga

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Di balik senyum guru yang menyambut siswa setiap pagi di SD Muhammadiyah 16 Surabaya, tersimpan sebuah tradisi yang telah mengakar sejak sekolah ini masih memiliki satu akses masuk.

Budaya itu terus dipertahankan sebagai bagian dari karakter Sekolah Kreatif Baratajaya hingga sekarang.
Suasana tersebut kembali terlihat pada Jumat (24/7/2026). Sejak pukul 06.30 WIB, guru-guru telah bersiaga di sejumlah titik untuk menyambut kedatangan peserta didik. Tidak hanya di gerbang utama, tetapi juga di akses Gang Baratajaya IIA, Gang Baratajaya V Barat, halaman sekolah, hingga depan ruang informasi.

Pendiri Sekolah Kreatif Baratajaya, Heru Tjahyono, mengatakan tradisi menyambut siswa lahir dari perjalanan panjang sekolah yang terus berkembang.
“Dulu sekolah ini hanya memiliki satu akses, yaitu melalui Gang Baratajaya V Barat. Jalannya kecil, bahkan sekarang terasa lebih sempit dibandingkan dahulu. Dari akses sederhana itulah perjalanan Sekolah Kreatif dimulai,” kenangnya.

Menurut Heru, meskipun wajah sekolah berubah dan fasilitas semakin berkembang, satu hal yang tidak pernah berubah adalah cara sekolah memperlakukan setiap anak yang datang.
“Yang kami pertahankan bukan hanya gedung atau program, tetapi budayanya. Anak-anak harus merasa disambut, dihargai, dan diterima sejak mereka melangkahkan kaki ke sekolah,” ujarnya.

Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd, menjelaskan bahwa kini sekolah memiliki beberapa jalur masuk sehingga penyambutan dilakukan di berbagai lokasi.
“Karena akses sekolah bertambah, guru kami juga dibagi di beberapa titik. Selain menyambut siswa, kami ingin memastikan setiap anak tiba di sekolah dengan aman dan orang tua merasa tenang saat menitipkan putra-putrinya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa setiap wali kelas juga telah bersiap di depan ruang belajar sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
“Kami ingin anak-anak mengawali hari dengan pengalaman yang menyenangkan. Sambutan sederhana dari guru sering kali menjadi awal yang baik bagi proses belajar mereka,” tambah Ely.

Tradisi tersebut mendapat apresiasi dari orang tua siswa. Eni Rahmawati, wali murid kelas I, mengaku suasana hangat yang diciptakan guru membuat anaknya cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
“Anak saya selalu antusias berangkat sekolah. Begitu datang langsung disambut guru dengan ramah. Sebagai orang tua, saya merasa sekolah ini benar-benar memperhatikan anak-anak,” tuturnya.

Bagi SD Muhammadiyah 16 Surabaya, perkembangan sekolah tidak hanya diukur dari bertambahnya fasilitas maupun jumlah peserta didik. Lebih dari itu, keberhasilan menjaga budaya menyambut setiap siswa dengan hangat menjadi identitas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi yang lahir dari sebuah gang kecil di Baratajaya kini menjadi salah satu wajah pelayanan pendidikan yang dikenal masyarakat Surabaya.
(Ahmad Mahmudi)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article