
Surabaya, wartapoint — Perkembangan pesat teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap pendidikan secara mendasar. Di tengah kemudahan akses informasi yang serba instan, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukanlah sekadar menyalurkan materi akademis, melainkan melatih daya kritis, kreativitas, empati, dan nilai kepemimpinan peserta didik.
Menjawab tantangan abad ke-21 tersebut, SMP Muhammadiyah 13 Surabaya menginisiasi gerakan “Pelopor Perubahan”. Gerakan ini mengadopsi paradigma Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menekankan tiga pilar utama: berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Melalui pendekatan ini, peran guru digeser dari satu-satunya sumber ilmu menjadi fasilitator dan mitra belajar. Sementara itu, murid diposisikan sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman nyata di tengah masyarakat.
Mengintegrasikan Deep Learning dan Keterampilan 6C
Implementasi Pembelajaran Mendalam di SMP Muhammadiyah 13 Surabaya difokuskan pada pengembangan enam kompetensi utama (6C), yaitu Character (karakter), Citizenship (kewarganegaraan), Collaboration (kolaborasi), Communication (komunikasi), Creativity (kreativitas), dan Critical Thinking (berpikir kritis).
Pengembangan 6C tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah program unggulan yang saling terintegrasi:
- Kelas Talent (Prinsip “Satu Murid Satu Prestasi”): Memfasilitasi pengembangan bakat spesifik murid mulai dari bidang akademik, olahraga, seni, bahasa, hingga teknologi secara konsisten.
- Imamah (Imam Muda Muhammadiyah): Melatih nilai religius dan kepemimpinan dengan menerjunkan murid secara langsung menjadi imam salat di masjid-masjid sekitar sekolah dan lingkungan rumah.
- Webinar Pelajar: Mendorong murid menjadi knowledge creator dengan berperan aktif sebagai narasumber, moderator, serta fasilitator dalam seminar daring bagi siswa SD/MI.
- Sinau Urip: Program pembelajaran lapangan di mana murid tinggal dan berinteraksi langsung di tengah masyarakat desa untuk mengasah empati, kemandirian, dan semangat gotong royong.
- Ecopreneur & Karya Ilmiah Remaja (KIR): Mengajak murid menganalisis masalah lingkungan sekitar, mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, serta melakukan penelitian berbasis pemecahan masalah (problem-based learning).
Belajar yang Berdampak dan Berkelanjutan
Aktivitas belajar tidak lagi dibatasi oleh dinding kelas atau jam pelajaran sekolah. Dengan menjadikan masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai laboratorium belajar, murid dilatih untuk berani mengambil risiko, mengolah informasi, serta merancang solusi atas persoalan konkret.
Transformasi budaya belajar yang diterapkan di SMP Muhammadiyah 13 Surabaya membuktikan bahwa efektivitas pendidikan terletak pada keterhubungan antara konsep teoritis dan realitas sosial. Melalui sinergi antara peran guru sebagai fasilitator, partisipasi aktif murid, dan keterlibatan masyarakat, sekolah mampu membentuk generasi penerus yang berkarakter kuat, berdaya saing, dan siap menjadi agen perubahan bagi bangsa. (Hayatun Nufus)





