
Surabaya, wartapoint – Tidak semua usulan lahir dari ruang rapat orang dewasa. Di ruang perpustakaan SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Jumat (31/7/2026), justru ide-ide anak sekolah dasar menjadi penentu arah pelaksanaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Siang itu, kader cilik Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) KIDS berkumpul dalam rapat koordinasi. Bukan untuk mendengarkan arahan panjang dari guru, melainkan untuk saling menyampaikan gagasan, mengkritisi rencana yang ada, dan mencari solusi bersama.
Rapat dibuka oleh Sekretaris IPM KIDS, Azka Alfarzan Arya Krisdianto, kemudian dipimpin Ketua IPM KIDS, Noura Malia.
Di awal pertemuan, Noura menyampaikan hasil koordinasi dengan Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah.
“Tema peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di sekolah kita adalah ‘Pemimpin Merdeka’. Kami juga dipercaya menjadi panitia kegiatan mulai 6 Agustus sampai puncaknya pada 17 Agustus,” ujar Noura.
Ia kemudian menjelaskan berbagai perlombaan yang akan digelar, mulai dari mewarnai, menggambar, membaca puisi, menyanyi, futsal, senam, gobak sodor, gerak jalan, hingga permainan memindahkan air menggunakan spons.
Namun, rapat berubah menjadi ruang bertukar ide ketika sesi diskusi dibuka.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup, Faiz Aqila Adlar, menjadi peserta pertama yang menyampaikan usulan.
“Menurut saya, selain panitia lomba, kita perlu tim keamanan supaya kegiatan lebih tertib. Bidang Lingkungan Hidup siap menjalankan tugas itu,” usul Faiz.
Usulan tersebut diterima dan menjadi bagian dari keputusan rapat.
Tak lama kemudian, Ketua Bidang Teknologi dan Informasi, Namia Aleesya Oxavia, menyampaikan persoalan lain.
“Lomba nanti berlangsung di Kampus 1 dan Kampus 2. Kami kekurangan personel dokumentasi. Mungkin ada teman-teman dari bidang lain yang bisa membantu. Selain itu, bagaimana dengan panitia kesehatan?” tanyanya.
Alih-alih langsung memutuskan, forum kembali berdiskusi. Noura kemudian mengajukan alternatif.
“Untuk dokumentasi akan dibantu teman-teman kelas V dan VI yang direkomendasikan guru. Sedangkan panitia kesehatan, bagaimana kalau kita bekerja sama dengan ekstrakurikuler Dokter Cilik?” katanya.
Tanpa perdebatan panjang, seluruh peserta menyatakan persetujuan.
“Setuju,” jawab seluruh anggota rapat.
Bagi Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., momen seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar menghasilkan susunan panitia.
“Kami ingin setiap anak merasakan bahwa pendapat mereka didengar dan memiliki dampak. Ketika ide mereka menjadi bagian dari keputusan bersama, mereka belajar percaya diri, bertanggung jawab, dan menghargai pendapat orang lain. Itulah esensi student voice yang terus kami tumbuhkan,” ujarnya.
Di akhir rapat, para pengurus langsung membagi tugas dan mendata kebutuhan perlombaan. Keputusan yang lahir siang itu bukan hasil instruksi sepihak, melainkan buah dari gagasan yang muncul dari para siswa sendiri.
Rapat sederhana tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di depan papan tulis. Terkadang, pelajaran paling berharga hadir ketika anak-anak diberi kesempatan untuk berbicara, didengarkan, dan melihat bahwa ide mereka benar-benar mampu mengubah sebuah rencana menjadi kenyataan.
(Ahmad Mahmudi)





