
Surabaya, wartapoint – Ketika banyak sekolah masih mencari formulasi terbaik dalam memberikan layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus, SD Muhammadiyah 16 Surabaya justru telah menjadikan pendidikan inklusif sebagai budaya sekolah. Komitmen itu menarik perhatian 28 kepala SD/MI Muhammadiyah se-Kota Surabaya yang menghadiri Rapat Periodik Kelompok Kerja Kepala Sekolah/Madrasah (K3S) Muhammadiyah Kota Surabaya di Kampus 2 Sekolah Kreatif Baratajaya, Selasa (4/8/2026).
Forum tersebut tidak hanya membahas agenda organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi para kepala sekolah untuk melihat secara langsung bagaimana pendidikan inklusif dijalankan melalui sistem, sumber daya manusia, hingga fasilitas pendukung yang dimiliki sekolah.
Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., mengatakan bahwa sekolah berkomitmen memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh peserta didik.
“Kami percaya setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Karena itu setiap siswa yang diamanahkan kepada kami akan kami layani secara maksimal tanpa terkecuali, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Ely.
Tepat pukul 09:30 WIB acara dimulai, di hadapan para peserta, Ely memperkenalkan berbagai fasilitas yang mendukung layanan tersebut.
“Kampus 2 ini kami lengkapi dengan ruang sumber dan ruang terapi sebagai bagian dari layanan pendidikan inklusif. Selain itu terdapat kolam renang yang dimanfaatkan untuk menunjang proses pembelajaran. Semua fasilitas kami rancang agar anak-anak dapat berkembang sesuai potensinya,” jelasnya.
Menurut Ely, layanan inklusif tidak akan berjalan tanpa dukungan tenaga pendidik yang memadai.
“Saat ini kami memiliki 75 guru dan karyawan serta sekitar 68 shadow teacher. Kehadiran mereka menjadi bentuk kesungguhan sekolah dalam mendampingi setiap anak sesuai kebutuhannya,” katanya.
Ia juga memperkenalkan budaya ramah lingkungan yang diterapkan di sekolah.
“Kami membiasakan penggunaan gelas untuk mengurangi sampah plastik. Pendidikan karakter harus dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” tambahnya.
Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), Heru Tjahyono, menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus dibarengi dengan keberanian berinovasi.
“Perubahan zaman menuntut sekolah terus beradaptasi. Jangan takut dianggap berbeda ketika tujuannya memberikan pelayanan yang lebih baik kepada peserta didik. Inovasi selalu berawal dari keberanian,” ujarnya.
Heru mengungkapkan bahwa perjalanan Sekolah Kreatif Baratajaya membangun pendidikan inklusif bukan tanpa tantangan.
“Apa yang hari ini dilihat sebagai keunggulan, dahulu sering dipandang berbeda. Namun kami memilih tetap konsisten karena yang kami pikirkan adalah kebutuhan anak-anak, bukan penilaian sesaat,” katanya.
Ia mengajak para kepala sekolah untuk terus mengembangkan budaya belajar di sekolah masing-masing.
“Kalau ingin maju, sekolah harus terbuka terhadap perubahan, mau belajar dari siapa pun, dan tidak berhenti berinovasi. Dunia pendidikan selalu bergerak, maka kita juga harus bergerak,” tegasnya.
Ketua K3S Muhammadiyah Kota Surabaya, Priyo Sasongko, M.Pd., mengapresiasi praktik baik yang dibagikan SD Muhammadiyah 16 Surabaya.
“Layanan inklusif seperti ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah. Semoga pengalaman yang diperoleh hari ini dapat memperkuat pelayanan pendidikan di sekolah masing-masing,” ujarnya.
Priyo menambahkan bahwa kualitas layanan merupakan kunci utama menjaga kepercayaan masyarakat.
“Sekolah Muhammadiyah harus terus meningkatkan mutu pelayanan. Ketika pelayanan semakin baik, kepercayaan masyarakat pun akan semakin kuat,” katanya.
Diskusi berlangsung aktif hingga siang hari dengan berbagai pembahasan mengenai pengembangan pendidikan inklusif, inovasi pembelajaran, dan strategi peningkatan mutu sekolah.
Rapat periodik kemudian ditutup dengan salat Zuhur berjamaah dan ramah tamah. Dari forum tersebut tersirat satu pesan penting: pendidikan inklusif bukan sekadar program, melainkan komitmen yang dibangun melalui kepemimpinan, budaya sekolah, dan keberanian untuk terus berinovasi. Melalui komitmen itulah, Sekolah Kreatif Baratajaya kini menjadi salah satu rujukan bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Surabaya.
(Ahmad Mahmudi)





