Gelar Welcome Party, SMAMDA Surabaya Sambut Siswa Exchange Asal AS Lucy Filipczak bersama Chair RYE Enny Ambarsari

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menggelar acara penyambutan hangat (Welcome Party) bagi Lucy Filipczak, siswa peserta program Rotary Youth Exchange (RYE) asal Amerika Serikat, pada Kamis (6/8/2026) di lantai 2 Smamda Tower, Surabaya.

​Acara tersebut menegaskan keberlanjutan kerja sama internasional antara Smamda Surabaya dan Rotary Club. Chair RYE District 3420 Indonesia, Enny Ambarsari, menjelaskan bahwa kemitraan strategis dengan Smamda telah terjalin erat selama satu dekade.

​”Kami bekerja sama dengan Smamda itu sejak tahun 2016. Waktu itu satu anak kita kirim ke Brasil dan selanjutnya tahun-tahun berikutnya kerja sama terus berlanjut. Sempat break waktu pandemi dari 2020 sampai 2021, sesudah itu jalan lagi,” ujar Enny Ambarsari saat ditemui wartawan wartapoint.id, Kamis (6/8/2026).

​Enny menambahkan, Smamda Surabaya konsisten menjadi tujuan penempatan siswa pertukaran dari berbagai negara. Sebelum menyambut Lucy dari Amerika Serikat, Smamda telah menerima peserta dari Belgia hingga Prancis.

Mekanisme Penempatan dan Tata Kelola Program

​Enny Ambarsari mengungkapkan bahwa penempatan siswa pertukaran merupakan kewenangan penuh komite RYE. Penentuan sekolah pada umumnya memprioritaskan lembaga yang juga mengirimkan siswanya ke luar negeri melalui prinsip resiprokal.

​”Kenapa kami pilih taruh di sekolah ini, sebenarnya karena ada satu anak yang berangkat dari sekolah ini ke luar negeri. Karena sistemnya resiprokal, memudahkan anak yang meninggalkan suatu sekolah untuk digantikan oleh anak inbound di sekolah tersebut,” jelas Enny.

​Meski demikian, sistem resiprokal tidak bersifat mutlak. Rekam jejak kerja sama yang panjang serta proses kurasi ketat menjadi pertimbangan utama Rotary terus memercayakan penempatan peserta di Smamda Surabaya.

​Program pertukaran ini berlangsung selama 10 hingga 11 bulan (satu tahun akademik) menggunakan visa pelajar. Oleh karena itu, para peserta diwajibkan fokus menempuh pendidikan dan dilarang bekerja.

​Untuk memperluas wawasan dan pengalaman adaptasi, para siswa tidak ditempatkan di asrama (dormitory), melainkan tinggal bersama keluarga angkat (host family). Selama satu tahun, peserta akan berpindah host family sebanyak tiga kali.

​”Satu tahun anak akan berpindah tiga kali. Biasanya kita putus sampai Desember, lalu Januari sampai Maret, dan April sampai mereka pulang. Kenapa berpindah-pindah? Kami ingin anak mendapatkan banyak pengalaman dan perspektif berbeda, misalnya dari keluarga dokter, dosen, hingga engineer,” tutur Enny.

Fokus Pertukaran Budaya dan Bahasa

​Enny Ambarsari menegaskan bahwa RYE merupakan program pertukaran budaya (cultural exchange), bukan pertukaran akademik formal atau beasiswa. Peserta tidak dibebani target nilai maupun mata pelajaran wajib tertentu.

​Namun, penyesuaian dan penguasaan Bahasa Indonesia menjadi salah satu keharusan. Hal ini pula yang menjadi alasan Rotary sengaja menempatkan peserta di sekolah reguler nasional, bukan sekolah internasional.

​”Bahasa Indonesia wajib. Kami tidak bisa menaruh anak di international school karena kalau di sana fully Bahasa Inggris. Bahasa itu salah satu wujud budaya, kalau tidak bisa bahasa mereka tidak bisa melakukan pertukaran budaya,” tegasnya.

​Terkait penempatan kelas bagi Lucy yang berusia sekitar 15–16 tahun, pihak Rotary menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan internal Smamda Surabaya berdasarkan pertimbangan kurikulum dan kebutuhan siswa. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article