
Surabaya, wartapoint — Dalam kehidupan bermasyarakat, ungkapan “kalau salah tinggal minta maaf” sering kali terdengar dan dianggap biasa. Kendati meminta maaf merupakan akhlak terpuji yang sangat dianjurkan, mencegah terjadinya kesalahan melalui pertimbangan yang matang jauh lebih utama. Hal tersebut ditegaskan oleh Tokoh Masyarakat, H. Sutikno, S.Sos, M.H., dalam pandangannya mengenai pentingnya kontrol diri di tengah fenomena sosial saat ini.
Menurut Sutikno, kemajuan zaman dan kemudahan berkomunikasi kerap memicu fenomena asal bicara yang kemudian disusul dengan permohonan maaf formalitas. Menjaga lisan serta tindakan sebelum berbuat merupakan cerminan tertinggi dari kecerdasan emosional dan kematangan spiritual seseorang.
“Meminta maaf memang mulia, tetapi berhati-hati sebelum bersikap jauh lebih utama. Jangan sampai kata maaf hanya dijadikan formalitas atau alat untuk meloloskan diri dari dampak kecerobohan. Kehati-hatian adalah bentuk pencegahan terbaik,” ujarnya.
Dari sudut pandang psikologi perkembangan, pembiasaan berpikir sebelum bertindak sejalan dengan konsep cognitive development dan kematangan emosional (emotional maturity). Pribadi yang matang akan mengedepankan kontrol diri (self-control) serta kesadaran diri (self-awareness), sehingga mampu memperhitungkan dampak sosial dari setiap ucapan dan tindakannya.
Landasan moral ini juga sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, Rasulullah SAW mengingatkan agar umatnya menghindari ucapan yang berpotensi menimbulkan penyesalan di kemudian hari:
“Janganlah engkau mengucapkan sesuatu kalimat yang membuatmu harus meminta maaf karenanya (di kemudian hari).” (HR. Ibnu Majah no. 4171 & Ahmad)
Selain itu, kewajiban menjaga lisan juga ditegaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda agar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir senantiasa berkata baik atau memilih untuk diam.
Meski demikian, Sutikno menyadari bahwa manusia tidak pernah luput dari kekhilafan. Jika pribadi yang cerdas mengutamakan kehati-hatian agar tidak berbuat salah, maka pribadi yang baik memiliki kerendahan hati (tawadhu’) untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika kekeliruan benar-benar terjadi. Prinsip ini merujuk pada hadis riwayat Tirmidzi bahwa sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat dan memperbaiki diri.
Mengakhiri pesannya, Sutikno mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus membangun budaya berpikir kritis dan bijak sebelum mengambil keputusan.
“Mari kita biasakan menimbang sebelum berbicara dan memperhitungkan akibat sebelum bertindak. Jadikan kata maaf sebagai jalan terakhir saat terjadi kekeliruan yang tidak disengaja, bukan sebagai tameng untuk mengulangi kesalahan yang sama. Orang bijak tidak mengandalkan kata maaf untuk memperbaiki keadaan, tetapi mengandalkan kebijaksanaan agar kesalahan itu tidak perlu terjadi,” pungkasnya. (yupan)





