
Surabaya, wartapoint — Momen libur sekolah tidak melulu harus diisi dengan berekreasi ke tempat wisata. Liburan juga dapat menjadi kesempatan berharga bagi anak-anak untuk belajar sejarah secara langsung dan mengenal lebih dekat sosok pahlawan bangsa.
Semangat itulah yang ditunjukkan oleh Tsaaniyah Azza Ghaniyah Thorieq, seorang jurnalis cilik asal SD Muhammadiyah 10 Surabaya (MUMTAS). Siswi yang akrab disapa Azza ini memilih mengisi waktu liburnya pada Sabtu (8/8/2026) dengan menelusuri jejak sejarah tokoh penting Muhammadiyah sekaligus Pejuang Kemerdekaan Indonesia, KH Mas Mansyur.
Azza mengunjungi kawasan Makam Sunan Ampel, Surabaya, yang berlokasi tepat di belakang rumah kakeknya. Di sana, ia melihat secara langsung makam KH Mas Mansyur yang terletak di dalam kompleks pemakaman keluarga Gipo (Sagipoddin), salah satu jejak sejarah penting perjalanan perjuangan Islam dan bangsa di Kota Pahlawan.
Makam yang berada di sisi timur kompleks Masjid Agung Sunan Ampel tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir sang ulama besar, berdekatan dengan makam para tokoh sejarah lainnya.
Bagi Azza, kegiatan ini bukan sekadar membaca buku sejarah, melainkan sebuah pengalaman belajar interaktif yang menghubungkan literatur dengan situs peninggalan nyata.
”Aku senang bisa belajar langsung tentang KH Mas Mansyur dan melihat makam beliau. Dari sini aku jadi tahu perjuangan beliau untuk Muhammadiyah dan Indonesia,” ungkap Azza.
Mengenal Sosok KH Mas Mansyur
KH Mas Mansyur lahir di Surabaya pada 25 Juni 1896 dan wafat pada 25 April 1946. Ia dikenal sebagai ulama, pendidik, dan pembaru pemikiran Islam terkemuka pada abad ke-20.
Dalam rekam jejak organisasinya, KH Mas Mansyur pernah mengemban amanah sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah periode 1937–1943. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah berkembang pesat dalam bidang dakwah, pendidikan, dan tata kelola organisasi.
Perjuangannya tidak berhenti di lingkup keagamaan. Pada masa pendudukan Jepang, KH Mas Mansyur bergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara—kelompok tokoh yang kemudian masyhur dengan sebutan Empat Serangkai.
Hingga akhir hayatnya, ia terus terlibat aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 162 Tahun 1964.
Edukasi Sejarah Sejak Dini
Inisiatif sederhana yang dilakukan Azza memberikan keteladanan bahwa mempelajari sejarah dapat dikemas secara menyenangkan. Mengenal tokoh seperti KH Mas Mansyur melatih generasi muda untuk tidak sekadar menghafal nama dan tanggal, tetapi juga menyerap nilai-nilai perjuangan, keikhlasan berorganisasi, serta semangat berbakti bagi bangsa.
Melalui kegiatan literasi lapangan ini, jurnalis cilik SD MUMTAS Surabaya tersebut berharap anak-anak seusianya semakin terdorong untuk mengenal sosok pahlawan dan menumbuhkan rasa cinta tanah air sejak dini. (Laporan jurnalis cilik SD Muhammadiyah 10 Surabaya Tsaaniyah Azza Ghaniyah Thorieq)





