
Setiap orang tua tentu mengidamkan pengasuhan terbaik bagi buah hatinya. Keinginan yang sama juga dirasakan oleh kakek dan nenek—mereka merindukan sang cucu tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat, dan berbakti. Namun dalam perjalanannya, tidak jarang timbul perbedaan pandangan dan pola asuh yang bertolak belakang antara orang tua dan kakek-nenek.
Perbedaan ini sering kali menjadi dinamika tersendiri dalam keluarga besar. Untuk memahaminya secara jernih, kita perlu mendudukkan kembali makna dari pola asuh itu sendiri.
Memahami Hakikat Pola Asuh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pola asuh adalah cara atau sistem orang tua dalam merawat, mendidik, dan membimbing anak. Dalam tatanan keluarga inti, orang tualah yang memegang peran utama sebagai penentu arah pengasuhan.
Namun, ketika anak tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki buah hati, struktur keluarga meluas. Hadirnya kakek dan nenek membawa warna baru. Ketika sang cucu mulai tumbuh menggemaskan—sekaligus kadang memunculkan kekhawatiran—interaksi antar-generasi ini kerap melahirkan benturan pola asuh.
Dalam tinjauan psikologi, para pakar mengklasifikasikan pola asuh ke dalam empat kategori utama:
- Otoritatif (Demokratis): Orang tua menetapkan aturan yang jelas, tetapi tetap hangat dan suportif. Terjalin komunikasi dua arah, serta anak didorong untuk mandiri dan bertanggung jawab.
- Otoriter: Pola pengasuhan kaku, menuntut, dan penuh kontrol. Anak dituntut patuh mutlak tanpa diskusi, yang berisiko membentuk pribadi penakut dan kurang mandiri.
- Permisif: Pengasuhan yang penuh kasih sayang dan hangat, namun minim aturan dan batasan. Semua keinginan anak cenderung dituruti tanpa penegakan disiplin yang konsisten.
- Abai (Neglectful): Orang tua minim memberikan perhatian maupun pengawasan, baik secara fisik maupun emosional, sehingga anak merasa tidak tersayang dan bermasalah dalam regulasi emosi.
Realita Pola Asuh Kakek-Nenek: Kecenderungan Permisif
Di tengah masyarakat, muncul persepsi bahwa kakek dan nenek cenderung menerapkan pola asuh permisif (serba boleh) kepada cucunya. Fenomena ini sejalan dengan temuan riset oleh A’isyah Hilal dkk. yang dipublikasikan pada International Journal of Contemporary Islamic Studies (IJCIS).
Hasil analisis persentase menunjukkan bahwa pola asuh demokratis mencatatkan angka 33,65%, disusul pola asuh permisif sebesar 33,46%, dan pola asuh otoriter sebesar 32,90%.
Meski berada di urutan kedua, proporsi pola asuh permisif sebesar 33,46% merupakan angka yang terbilang tinggi. Hal ini patut menjadi perhatian bersama, mengingat pola permisif memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan karakter dan kemandirian anak.
Ciri Khas dan Dampak Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif memiliki beberapa karakteristik menonjol yang kerap dijumpai dalam interaksi sehari-hari:
- Aturan yang tidak jelas atau berubah-ubah.
- Minimnya penerapan konsekuensi atas pelanggaran.
- Kebebasan tinggi tanpa disertai tanggung jawab.
- Terlalu mengandalkan hadiah (reward) sebagai satu-satunya motivasi.
- Kurangnya pemahaman anak terhadap batasan dan otoritas orang tua.
- Rutinitas harian yang tidak teratur.
Jika dibiarkan tanpa penyesuaian, pola asuh permisif berpotensi membawa dampak panjang bagi tumbuh kembang anak:
- Emosi Tidak Stabil: Anak lebih mudah frustrasi saat menghadapi tekanan atau batasan di luar rumah.
- Kemandirian Rendah: Anak tidak terbiasa mengambil keputusan atau menyelesaikan tugasnya sendiri.
- Perilaku Impulsif: Anak cenderung egois dan kesulitan menunda keinginan.
- Hambatan Adaptasi Social: Anak berisiko mengalami kesulitan beradaptasi di lingkungan sekolah yang memiliki aturan ketat.
- Mudah Menyerah: Kurangnya pengalaman menghadapi tantangan membuat anak cepat putus asa.
- Krisis Kepercayaan Diri: Kepercayaan diri yang sejati tidak terbentuk secara kokoh karena proses perjuangan anak selalu diintervensi atau dimudahkan.
Menyelaraskan Langkah: Solusi Pengasuhan Bersama
Menyadari dampak tersebut, diperlukan langkah kolaboratif antara orang tua dan kakek-nenek agar tumbuh kembang anak tetap berada pada rute yang optimal.
Solusi utamanya berakar pada konsistensi dan penyelarasan batasan. Orang tua dan kakek-nenek perlu duduk bersama untuk menyepakati aturan dasar pengasuhan. Kasih sayang dan kehangatan yang melimpah dari kakek-nenek tentu merupakan berkah besar, namun harus diimbangi dengan kedisiplinan yang tegas dari orang tua.
Melatih anak bertanggung jawab atas tindakannya serta mengenalkan batas-batas perilaku sejak dini akan membantu mereka memahami jati diri. Dengan keselarasan ini, proses internalisasi nilai-nilai kebaikan dapat berjalan baik, membekali anak menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, dan siap menata masa depan yang bermakna.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, dan kearifan bagi para orang tua serta kakek-nenek dalam mendidik dan membimbing putra-putri generasi penerus bangsa.
Oleh: Jatim, MA (Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya)





