
Surabaya, wartapoint — Pemandangan menyentuh terlihat di kawasan Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, depan Balai Kota Surabaya. Dua siswi asal Mumtas berdiri tegak memberikan penghormatan khidmat ke arah patung Sang Panglima Besar usai mengikuti upacara bendera peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di sekolah mereka.
Salah satu siswi sekaligus jurnalis cilik SD Muhammadiyah 10 Surabaya, Azza, mengungkapkan bahwa aksi memberikan hormat tersebut bukan sekadar pose untuk berswafoto. Langkah itu merupakan bentuk penghormatan mendalam dan rasa terima kasih atas pengorbanan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.
”Saya hormat kepada Jenderal Soedirman karena beliau adalah pahlawan yang sudah berjuang untuk Indonesia. Saya ingin menghargai perjuangan beliau dan pahlawan lainnya yang telah berkorban demi kemerdekaan kita,” ujar Azza.
Azza menegaskan bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi muda saat ini tidak datang begitu saja. Menurutnya, perjuangan masa lalu yang dipenuhi keberanian dan sikap pantang menyerah harus dilanjutkan dengan kontribusi positif pada era modern.
”Sekarang kita tidak perlu berperang. Cara kita mengisi kemerdekaan adalah dengan rajin belajar, disiplin, menghormati orang tua dan guru, menjaga persatuan, serta menjadi anak yang baik dan bermanfaat,” tambahnya.
Momentum HUT ke-81 RI yang mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” ini menjadi pengingat penting bagi Azza dan kakaknya akan tanggung jawab generasi penerus. Ia bertekad untuk terus menimba ilmu demi menjaga Indonesia tetap damai dan bersatu.
Teladan Kader Muhammadiyah dan Hizbul Wathan
Aksi kedua siswi Mumtas ini sekaligus memperkuat refleksi sejarah. Sosok Jenderal Soedirman memiliki ikatan historis yang erat dengan Muhammadiyah. Sebelum diangkat menjadi Panglima Besar TNI, Soedirman merupakan seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap serta aktif dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW). Pendidikan kepanduan tersebut membentuk karakter kedisiplinan, kepemimpinan, dan kecintaannya pada tanah air.
Bagi keluarga besar Muhammadiyah dan Hizbul Wathan, Jenderal Soedirman bukan hanya figur sejarah, melainkan teladan kader yang menanamkan nilai iman, ilmu, keberanian, dan pengabdian.
Penghormatan sederhana di depan monumen tersebut membawa pesan tersirat: perjuangan bangsa belum usai. Jika dahulu pahlawan berjuang mengusir penjajah, kini tugas generasi muda adalah mengisi kemerdekaan melalui ilmu pengetahuan, akhlak, persatuan, dan karya nyata untuk Indonesia. (Azza)
#beritanusantara #indonesia #jawatimur #surabaya #muhammadiyah #sekolah





