
Surabaya, wartapoint – Fenomena perilaku anak yang sulit diatur atau kerap melanggar aturan sering kali dicap negatif oleh masyarakat dengan sebutan “anak nakal”. Menanggapi hal tersebut, Tim Literasi dan Pengembangan (Litbang) SD Muhammadiyah 29 Surabaya, Ustadz Jatim, M.A., menegaskan bahwa perilaku buruk pada anak bukanlah sifat bawaan sejak lahir, melainkan sebuah bentuk respons atau gejala akibat dari lingkungan dan pola pengasuhan.
Ustadz Jatim menjelaskan bahwa dalam pandangan psikologi maupun ajaran Islam, anak yang dilabeli “nakal” sejatinya sedang mengalami proses pencarian emosional yang belum terpenuhi. Anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk mengelola rasa frustrasi, lelah, atau bosan, sehingga manifestasinya muncul dalam bentuk pelanggaran aturan.
“Anak nakal itu akibat, bukan sebab. Tidak ada anak yang lahir langsung membawa bakat jahat. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah atau suci, dan lingkungan tempat ia tumbuh—terutama orang tua—yang membentuk karakternya,” tegas Ustadz Jatim.
Akar Penyebab Perilaku “Nakal” pada Anak
Berdasarkan analisis Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya, terdapat beberapa faktor utama yang memicu munculnya perilaku membangkang pada anak:
- Pola Asuh yang Kurang Tepat: Penerapan aturan yang terlalu otoriter, terlalu bebas, atau berubah-ubah (tidak konsisten) membuat anak bingung dan memilih memberontak.
- Upaya Mencari Perhatian: Anak sering sengaja berbuat ulah karena merasa kurang mendapatkan waktu dan kasih sayang dari orang tuanya.
- Ketidakmampuan Mengelola Emosi: Ketidakmatangan emosional membuat anak belum tahu cara mengekspresikan rasa lelah, bosan, atau kecewa secara positif.
- Fase Perkembangan Mandiri: Anak sedang berada pada tahap menguji batasan aturan di sekitarnya untuk menunjukkan independensi.
Anak Sebagai Amanah dan Ujian Orang Tua
Mengutip Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 28 dan Hadis Riwayat Bukhari-Muslim, Ustadz Jatim mengingatkan bahwa anak memiliki kedudukan strategis dalam Islam. Anak bukan hanya titipan (amanah) yang kelak dimintai pertanggungjawaban, tetapi juga penyejuk hati (qurrota ‘ayun), pelestari pahala amal jariyah melalui doa anak shalih, sekaligus sebagai ujian (fitnah) untuk menguji kesabaran dan ketaatan orang tua.
Oleh karena itu, menyalahkan anak secara sepihak ketika mereka melakukan kesalahan adalah tindakan yang tidak bijaksana. Orang tua dan pendidik dituntut untuk introspeksi serta mengambil langkah preventif dan edukatif.
Langkah Konkret Penanganan Perilaku Anak
Untuk mengatasi dan mengantisipasi kenakalan anak sedini mungkin, Ustadz Jatim membagikan lima panduan praktis yang dapat diterapkan oleh orang tua maupun pendidik, diantarnya:
- Nasihat yang Lembut: Sampaikan teguran dengan tutur kata yang santun, penuh kasih sayang, dan pada momen yang tepat.
- Keteladanan Positif: Jadilah contoh nyata (uswah hasanah), karena anak adalah peniru yang handal dari apa yang ia lihat sehari-hari.
- Perhatian Ekstra: Berikan apresiasi dan kehangatan agar anak merasa dihargai dan tidak perlu mencari perhatian dengan cara melanggar aturan.
- Hindari Bentakan dan Amarah: Dimarahi secara berlebihan hanya akan menumbuhkan trauma dan memicu sifat pembangkang yang lebih keras.
- Pendekatan Spiritual: Memperbanyak doa kepada Allah SWT agar diberikan kesabaran dalam mendidik serta dimohonkan kelembutan hati bagi sang anak.
”Daripada memberikan label negatif yang justru merusak mental anak, mari kita sadari kekurangan dalam pengasuhan kita. Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, keteladanan, dan optimisme, kenakalan anak dapat diubah menjadi potensi kebaikan menuju masa depan yang gemilang,” tutup Ustadz Jatim.
#beritanasional #indonesia #jawatimur #surabaya #sekolah





