
Surabaya, wartapoint — Momen-momen berharga dalam perjalanan menuntut ilmu agama selalu menyimpan tempat istimewa di hati para penghafal Al-Qur’an. Bagi Zahratul Abdillah, momen ketika berdiri di panggung Wisuda Tahfidz bersama Tajdied Center adalah sebuah kenangan abadi yang tak pernah pudar oleh waktu.
Di balik megahnya prosesi wisuda dan senyum kebahagiaan yang terpancar hari itu, tersimpan deretan perjuangan panjang yang dilalui Zahra bersama sahabat seperjuangannya, Aisya Kirana Hakim.
Deg-degan di Balik Panggung dan Perjuangan Berbulan-bulan
Sebelum nama mereka dipanggil maju ke depan panggung untuk menerima syahadah (ijazah tahfidz), perasaan gugup dan deg-degan sempat menyelimuti keduanya. Di tengah debaran dada saat menunggu giliran, Zahra dan Aisya saling bertukar cerita dan menguatkan satu sama lain.
Mereka mengenang kembali setiap detik usaha keras yang telah dilewati selama berbulan-bulan. Mulai dari perjuangan menambah serta menjaga hafalan ayat demi ayat Al-Qur’an, melewati ketatnya sesi seleksi ikhtibar, hingga perjuangan menguji ketahanan hafalan dalam sesi munaqosyah. Semua peluh, rasa lelah, dan dedikasi tersebut akhirnya terbayar tuntas saat hari kelulusan tiba.
Satu Foto, Seribu Makna
Puncak dari momen mengharukan tersebut diabadikan dalam sebuah foto berdua usai penyerahan syahadah. Dalam potret tersebut, tergambar jelas rasa syukur dan lega yang mendalam setelah berhasil menyelesaikan amanah hafalan di bawah bimbingan Tajdied Center.
Bagi Zahra, momen tersebut bukan sekadar seremoni kelulusan biasa, melainkan salah satu titik pencapaian paling berharga dalam hidupnya bersama para sahabat penuntut ilmu.
”Momen ini benar-benar menjadi kenangan yang sangat ingin saya ulang. Ini adalah momen paling berharga untuk saya dan teman-teman,” kenang Zahratul Abdillah saat menceritakan kembali kisah di balik foto kenangannya bersama Aisya Kirana Hakim.
Masa-masa perjuangan di Tajdied Center tersebut kini menjadi rekam jejak indah yang terus membakar semangat untuk tetap menjaga kalam Ilahi, sekaligus menjadi bukti bahwa setiap bait hafalan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan manisnya keberkahan. (Laporan jurnalis cilik SD Muhammadiyah 10 Surabaya Zahratul Abdillah)





