
Surabaya, wartapoint – Pendidikan karakter anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi bermula dari rumah sebagai tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar tentang keteladanan, kelembutan, tanggung jawab, serta komunikasi. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Parenting bertajuk “Orangtuaku Suri Teladanku” yang digelar di aula TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 22, Jalan Petemon Sidomulyo, Surabaya, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh para wali murid TK ABA 22 dan KB Aisyiyah 38 ini menghadirkan Kepala SD Muhammadiyah 2 Surabaya, Muhammad Agus Zaki Fanani, S.Pd., M.Pd.Gr., sebagai narasumber utama.
Sebelum memasuki materi inti, suasana dicairkan melalui sesi ice breaking yang dipandu oleh tim Humas SD Muhammadiyah 2 Surabaya, Ustadzah Nia, sehingga para peserta dapat menyimak materi dengan lebih rileks dan siap.
Rumah Sebagai Sekolah Pertama
Dalam pemaparannya, Agus Zaki mengajak para orang tua untuk melihat kembali peran vital keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak. Ia menekankan bahwa karakter anak terbentuk dari apa yang mereka lihat dan rasakan dalam keseharian di rumah.
“Anak-anak mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka tidak mudah lupa bagaimana kita membuat mereka merasa dicintai,” ujar Agus Zaki.
Menurutnya, menjadi orang tua tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Pentingnya Keteladanan dan Pengendalian Emosi
Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pentingnya keteladanan melalui penyelarasan antara ucapan dan tindakan, menepati janji-janji kecil, serta mempraktikkan perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak.
“Anak belajar karakter bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua ingin anak bertanggung jawab, maka orang tua perlu menunjukkan tanggung jawab itu dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Agus Zaki juga menyoroti cara orang tua merespons kesalahan anak. Kesalahan hendaknya dijadikan kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar alasan untuk memarahi. Saat emosi meningkat, ia menyarankan pola Jeda, Validasi, dan Solusi:
- Jeda: Tarik napas dan menenangkan diri sebelum merespons.
- Validasi: Mengakui dan memahami perasaan anak.
- Solusi: Mengajak anak mencari jalan keluar bersama.
“Ketika emosi sedang tinggi, hubungan perlu diselamatkan lebih dahulu. Tujuannya bukan memenangkan pertengkaran, tetapi mengajarkan anak bagaimana cara kembali tenang dan menyelesaikan masalah,” tegasnya.
Komunikasi Positif dan Pilihan Terarah
Selain pengendalian emosi, materi juga menekankan penggunaan bahasa positif. Kalimat larangan kaku seperti “Jangan lari!”, “Jangan teriak!”, atau “Jangan main HP!” disarankan untuk diubah menjadi arahan yang konstruktif, seperti:
- “Mari jalan pelan-pelan”
- “Bicara dengan suara lembut”
- “Ayo baca buku cerita bersama”
Namun, komunikasi positif tetap membutuhkan batasan yang jelas. Salah satu strateginya adalah memberikan pilihan terarah daripada perintah kaku, sehingga anak belajar mengambil keputusan sekaligus bertanggung jawab atas pilihannya.
Kelembutan dan Kebiasaan Sederhana di Rumah
Mengutip hadis tentang kelembutan dan kasih sayang, Agus Zaki mengingatkan bahwa kelembutan bukan berarti kehilangan ketegasan, melainkan cara untuk menjaga hubungan tetap hangat sambil mengarahkan perilaku anak.
“Cara kita memperlakukan anak ketika mereka sedang mengalami kesulitan sering kali mengajarkan arti kasih sayang jauh lebih kuat daripada nasihat yang panjang,” tuturnya.
Sebagai langkah konkret, ia membagikan tiga kebiasaan sederhana yang dapat langsung diterapkan di rumah:
- Menyelaraskan ucapan dan tindakan.
- Hadir tanpa gawai (seperti meluangkan waktu 15 menit khusus untuk mendengarkan cerita anak tanpa melihat layar smartphone).
- Menurunkan nada bicara.
Mewujudkan Rumah Sebagai Ruang Aman
Para peserta tampak antusias menyimak setiap pemaparan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari tersebut. Agus Zaki berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi wawasan teoritis, tetapi membawa perubahan nyata melalui tindakan kecil yang konsisten.
“Harapan saya, parenting ini tidak berhenti sebagai materi yang didengar hari ini. Semoga setiap keluarga memilih satu kebiasaan kecil yang bisa mulai dilakukan di rumah. Karena perubahan besar dalam karakter anak sering kali tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” harapnya.
Melalui kegiatan ini, orang tua diajak untuk terus membangun rumah sebagai ruang aman bagi anak untuk belajar, bertumbuh, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan merasakan kasih sayang yang utuh. (Indira)





