
Surabaya, wartapoint – Guna memberikan pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual, MI Muhammadiyah 25 (MIM 25) Surabaya menggelar Kegiatan Tengah Semester (KTS) Ganjil di Ekowisata Mangrove Gunung Anyar, Surabaya, Rabu (14/10/2026).
Sebanyak 10 guru pendamping turut mengawal ratusan siswa kelas IV dalam kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB ini. Kunjungan lapangan ini dirancang terintegrasi dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) berkonsep outing class, mengusung tema “Tumbuhan sebagai Energi Penting di Bumi”.
Amati Akar Napas hingga Fungsi Cegah Abrasi
Selama berada di lokasi, para siswa diajak mengamati secara langsung ekosistem kawasan air payau. Salah satu momen paling berkesan adalah saat mereka melihat struktur akar napas pada mangrove. Pengamatan ini memudahkan siswa memahami cara tumbuhan beradaptasi di lingkungan tanah berlumpur.
Tidak hanya mengamati flora dan fauna, para siswa juga mempelajari fungsi vital hutan mangrove bagi bumi, seperti:
- Meredam gelombang laut dan mencegah erosi/abrasi pantai.
- Menyerap emisi karbon serta menghasilkan oksigen bersih.
- Menjadi habitat alami tempat berlindung dan berkembang biaknya berbagai jenis hewan pesisir.
Asah Kemandirian dan Kepedulian Lingkungan
Selain penekanan pada aspek akademis, KTS Ganjil ini juga dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan karakter siswa, mulai dari kemandirian, kedisiplinan, kreativitas, hingga kemampuan bekerja sama dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala MIM 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I, mengapresiasi antusiasme para murid yang tetap semangat meski di bawah terik cuaca.
“Kegiatan hari ini sangat luar biasa. Meskipun cuaca agak panas, anak-anak tetap beraktivitas dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Hal itu membuktikan bahwa penanaman karakter pada murid sudah terbentuk dengan baik,” ungkap Ferry.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia KTS, Ustadzah Selly, S.Pd, menambahkan bahwa keberadaan ekowisata ini menjadi laboratorium alam yang ideal bagi siswa.
“Kunjungan ini benar-benar memberikan pengalaman belajar nyata tentang ekosistem pesisir. Anak-anak dapat merasakan secara langsung betapa pentingnya peran mangrove untuk mencegah abrasi,” tutur Ustadzah Selly.
Kesan Manis Bagi Siswa dan Orang Tua
Pengalaman belajar di luar kelas ini menyisakan kesan mendalam bagi para peserta. Gista Shakila Alesha, salah satu siswa kelas IV, mengaku sangat gembira bisa melihat langsung materi yang biasanya hanya ada di buku.
“Saya sangat senang hari ini. Saya bisa mengamati, melihat, dan menikmati pembelajaran tentang ekosistem yang sangat menarik,” ujar Gista dengan ceria.
Respon positif juga datang dari wali murid. Orang tua dari Syafa menyampaikan apresiasinya atas inisiatif madrasah. Menurutnya, dampak positif pembelajaran di lapangan terlihat langsung ketika anak pulang ke rumah dan menceritakan kembali pengalamannya dengan antusias. Hal ini membuktikan materi yang dipelajari benar-benar membekas dalam ingatan anak.
Menanamkan Kepedulian untuk Kelestarian Bumi
Melalui kegiatan terpadu di Ekowisata Mangrove Gunung Anyar ini, MIM 25 Surabaya berharap pembelajaran IPAS tidak sekadar berhenti pada hafalan teori. Lebih dari itu, pengalaman ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk terus mencintai, menjaga, dan melestarikan lingkungan demi masa depan bumi. (Siti Islaha)





