
Surabaya, wartapoint — Ajang Smamda Education Fair 2026 di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya memberikan kesan mendalam bagi para peserta didik. Salah satunya dirasakan oleh Diva Lathifa Maharani, siswi kelas XII Smamda Surabaya yang memiliki ketertarikan tinggi untuk melanjutkan studi perguruan tinggi ke luar negeri.
Di sela-sela kegiatan pameran pendidikan yang berlangsung di Smamda Tower, Rabu (14/10/2026), Diva mengungkapkan minat khususnya pada bidang desain dan animasi, dengan membidik negara tujuan seperti Malaysia atau Singapura.
”Untuk saat ini, saya tertarik melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Malaysia atau Singapura,” ujar Diva saat ditemui media wartapoint.id.
Tertarik Perkembangan Industri Kreatif dan Animasi
Diva menjelaskan bahwa pilihannya jatuh pada kawasan Asia Tenggara tersebut karena perkembangan industri kreatif, desain, dan animasinya yang dinilai sangat pesat dan berkualitas. Menurutnya, negara-negara tetangga memiliki ekosistem industri hiburan serta program pembelajaran visual yang sangat kompetitif.
”Saya ingin mendalami bidang desain dan animasi. Di Malaysia dan Singapura, industri kreatifnya sangat bagus, terlebih lagi dari segi animasinya—seperti karakter populer Upin & Ipin, Ejen Ali, dan karya-karya kreatif lainnya,” ungkap siswi yang bercita-cita menjadi animator profesional ini.
Meski demikian, ia juga sempat melirik negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan yang dikenal memiliki industri animasi dan hiburan berskala global yang amat luas. Namun, ia menyadari bahwa studi di negara-negara tersebut menuntut persyaratan khusus, seperti penguasaan bahasa asing lokal yang harus dipersiapkan sejak dini.
Peran Penting Konsultan Pendidikan dalam Menentukan Pilihan
Kehadiran lembaga konsultan pendidikan dalam Smamda Education Fair 2026 dinilai sangat membantu para siswa dalam merumuskan rencana masa depan studi mereka. Diva mengaku terbantu dengan informasi mendalam yang diberikan oleh para konsultan terkait perbandingan kualitas kampus, kurikulum, hingga estimasi biaya kuliah di luar negeri.
”Pihak konsultan sangat membantu memberikan kejelasan pilihan. Misalnya, mereka memberikan perbandingan keunggulan industri di Jepang yang sangat luas, atau Malaysia yang secara kultur lebih dekat. Dari situ kita jadi tahu persyaratan bahasa, kurikulum, hingga estimasi biaya yang dibutuhkan untuk per semester atau per tahunnya,” jelas Diva.
Ia menambahkan, kisaran biaya kuliah program sarjana (S1) di luar negeri seperti di Malaysia maupun Jepang umumnya berkisar antara Rp400 juta hingga Rp500 juta untuk masa studi tertentu, tergantung pada kebijakan masing-masing universitas dan program studi yang diambil.
Melalui ajang pameran pendidikan ini, Diva berharap teman-teman sesama pelajar dapat memanfaatkan kesempatan emas tersebut secara maksimal untuk menggali informasi seluas-luasnya, agar tidak salah dalam memilih jurusan dan kampus impian di masa depan. (yupan)





