
Oleh: Abudin Robbani (Direktur UMMUL QURO INSTITUTE)
Pendahuluan: Membedah Akar Persoalan Umat
Salah satu tantangan paling mendasar yang dihadapi umat Islam hari ini bukanlah semata-mata kekurangan kuantitas pemeluk agama, melainkan belum kokohnya budaya ilmu. Budaya yang seharusnya melahirkan kedalaman berpikir, kematangan akhlak, profesionalitas, serta kekuatan amal yang nyata kini kerap tergeser oleh rutinitas seremonial.
Semangat beragama yang tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan kesungguhan menuntut ilmu. Di ruang publik maupun digital, kita menyaksikan informasi menyebar sangat cepat tanpa filter tayamum (tabayyun), perdebatan lebih diminati ketimbang pencarian kebenaran, dan popularitas kerap mengesampingkan kompetensi. Bahkan, kritik konstruktif yang semestinya menjadi sarana evaluasi justru kerap disalahartikan sebagai serangan pribadi.
Kebangkitan umat tidak cukup dibangun hanya dengan jargon atau semangat emosional. Ia membutuhkan fondasi ilmu yang sahih, karakter yang kuat, kompetensi yang unggul, dan amal yang berdampak konkrit. Untuk menjawab tantangan zaman ini, ada tiga etos utama yang wajib dihidupkan kembali: Keep Learning, Keep Growing, dan Keep Inspiring.
1. Keep Learning: Kerendahan Hati Intelektual Tanpa Batas
Langkah awal dari perbaikan adalah kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu secara berkelanjutan. Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha [20]: 114)
Ayat ini memberikan petunjuk tegas bahwa menuntut ilmu tidak memiliki titik henti. Proses belajar tidak usai ketika seseorang meraih gelar akademik, memangku jabatan, atau mengantongi pengalaman bertahun-tahun. Justru, semakin besar amanah yang diemban, semakin besar pula tuntutan akan kedalaman ilmu:
- Orang tua membutuhkan ilmu pengasuhan (parenting).
- Guru memerlukan pembaruan metodologi dan kompetensi.
- Dai membutuhkan wawasan keagamaan yang mendalam sekaligus pemahaman atas realitas sosial.
- Pemimpin memerlukan integritas dan kebijaksanaan agar tidak melahirkan kebijakan yang zalim atau keliru.
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Imam Al-Ghazali, dinukilkan nasihat berharga dari ulama besar Abdullah bin Al-Mubarak:
لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ
“Seseorang akan tetap menjadi orang berilmu selama ia terus mencari ilmu. Apabila ia mengira dirinya telah mengetahui segalanya, sungguh ia telah menjadi orang yang tidak memahami.“
Kerendahan hati intelektual adalah kunci. Merasa paling tahu hanya akan menutup pintu kemajuan dan mengurung umat dalam stagnasi.
2. Keep Growing: Mentransformasi Ilmu Menjadi Amal dan Sistem
Belajar tanpa adanya perubahan perilaku hanya akan berujung pada penumpukan informasi yang pasif. Oleh karena itu, etos kedua—Keep Growing—menuntut peningkatan mutu iman, akhlak, kapasitas, dan kontribusi nyata.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)
Pertumbuhan yang hakiki memerlukan keberanian untuk mengevaluasi diri dan membenahi sistem. Lembaga pendidikan, organisasi dakwah, hingga institusi keluarga harus berani mengukur mutu dan membuka ruang kritik. Jangan sampai masjid ramai oleh kegiatan fisik, tetapi kepedulian sosialnya lumpuh. Jangan sampai organisasi memiliki jutaan program, tetapi lemah dalam disiplin, akuntabilitas, dan pencapaian hasil.
Dalam kitab Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal, Al-Khatib Al-Baghdadi menegaskan prinsip hubungan antara pengetahuan dan tindakan:
إِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ، وَالْعَم للَ ثَمَرَةٌ
“Sesungguhnya ilmu itu seperti pohon, sedangkan amal adalah buahnya.”
Ilmu yang benar mestinya membuahkan akhlak, profesionalitas, dan kemaslahatan publik. Umat tidak akan pernah bertumbuh secara optimal apabila evaluasi dianggap sebagai penghinaan dan kejayaan masa lalu dijadikan dalih untuk menolak pembaruan.
3. Keep Inspiring: Menjadi Teladan Melalui Aksi Nyata
Ilmu yang dituntut dan pertumbuhan yang dicapai tidak boleh berhenti pada pemenuhan ego pribadi. Keduanya harus dipancarkan kembali menjadi manfaat luas bagi lingkungan sekitar (Keep Inspiring).
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim.’” (QS. Fussilat [41]: 33)
Inspirasi terbesar tidak bersumber dari retorika kata-kata yang indah semata, melainkan dari keselarasan antara nilai yang diucapkan dan tindakan yang dijalankan:
- Seorang guru menginspirasi muridnya lewat penguasaan materi dan keteladanan akhlak.
- Seorang pemimpin menginspirasi bawahannya lewat integritas dan keadilan.
- Seorang orang tua menginspirasi anaknya lewat kesabaran dan konsistensi.
Sudah saatnya orientasi kolektif digeser: dari sekadar ingin tampil menjadi ingin memberi manfaat, dari sekadar berwacana menjadi bekerja, dan dari sekadar menuntut perubahan menjadi bagian dari pelaku perubahan itu sendiri.
Langkah Konkret Membangun Budaya Belajar dan Bertumbuh
Agar tiga etos di atas tidak sekadar menjadi wacana, diperlukan langkah-langkah praktis dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari:
- Pembelajaran Sepanjang Hayat (Long-life Learning): Menjadikan Al-Qur’an, Hadits, kitab-kitab otoritatif, literatur berkualitas, dan pengalaman hidup sebagai bahan belajar yang dievaluasi secara kritis.
- Budaya Muhasabah (Self-Evaluation): Secara berkala menanyakan pada diri sendiri: Apa ilmu baru yang diserap? Kekurangan apa yang telah diperbaiki? Dan manfaat apa yang sudah diberikan?
- Akuntabilitas & Evaluasi Mutu: Menerapkan tradisi evaluasi berbasis dampak pada keluarga, sekolah, masjid, dan organisasi, bukan sekadar menilai dari kuantitas acara.
- Literasi dan Tabayyun: Menjadikan data dan ilmu sebagai dasar pengambilan keputusan serta membiasakan verifikasi informasi di era banjir digital.
- Konsistensi (Istiqamah): Mengedepankan perubahan berkelanjutan dari langkah-langkah kecil. Rasulullah SAW bersabda:
- Teruslah belajar (Keep Learning) agar makin cerdas memahami kebenaran.
- Teruslah bertumbuh (Keep Growing) agar makin matang dalam iman, akhlak, dan karya.
- Teruslah menginspirasi (Keep Inspiring) agar keberadaan kita menjadi sumber kebaikan bagi alam semesta.
Sebab kebangkitan sejati tidak pernah lahir dari apa yang kita banggakan, melainkan dari apa yang berani kita perbaiki dan sungguh-sungguh kita kerjakan.





