
Surabaya, wartapoint – Gemuruh transformasi pendidikan digital menggema di Mas Mansyur Hall, Smamda Tower. SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya sukses menggelar seminar pendidikan bergengsi bertajuk “Strategi Implementasi Kurikulum Coding dan AI di SMP Sesuai Kesiapan dan Karakter Sekolah”, Rabu (02/04/2026).
Acara ini menjadi magnet bagi para penggiat pendidikan di Jawa Timur. Ratusan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, hingga perwakilan guru dari Surabaya, Sidoarjo, hingga ujung Madura (Bangkalan dan Sumenep) hadir untuk merumuskan masa depan kurikulum berbasis teknologi.
Transformasi Menuju Sekolah Islam Modern
Dalam sambutan pembukanya, Kepala Smamda Surabaya membawa audiens merefleksikan perjalanan panjang sekolah tersebut. Bermula dari lahan sempit seluas 300 meter, Smamda kini bertransformasi menjadi institusi global dengan 1.103 siswa aktif.
”Visi kami jelas, menjadi Sekolah Islam Modern. Di era ini, teknologi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan standar pelayanan. Kami berkomitmen pada prinsip ‘Tiada Kelas Kosong’ dengan mengoptimalkan peran TIK,” tegasnya.
Nuansa internasional Smamda kian kental dengan kehadiran siswa asal Prancis dan tenaga pendidik dari Jerman. Hal ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi di Smamda berjalan selaras dengan dakwah humanis yang inklusif, bahkan bagi siswa mualaf asing.
AI Sebagai Socratic Tutor: Memacu Nalar, Bukan Mematikan Daya Kritis
Perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Eko Hardi, memberikan sudut pandang tajam mengenai teknologi AI dalam peta geopolitik dunia. Beliau menekankan bahwa penguasaan teknologi adalah kunci kedaulatan sebuah bangsa.
Merujuk pada riset terbaru MIT & Harvard tahun 2025, Dr. Eko mengingatkan bahwa implementasi AI di sekolah tidak boleh melunturkan daya kritis siswa. Itulah alasan Smamda menggandeng Marshall Cavendish Education untuk mengadopsi standar pendidikan Singapura.
”Kita ingin AI berfungsi sebagai Socratic Tutor. Ia harus menjadi pendamping yang memicu nalar siswa, bukan sekadar mesin yang memberikan jawaban instan secara pasif,” ungkapnya.
Mendidik Siswa Menjadi “Manajer” bagi AI
Puncak pemaparan disampaikan oleh Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Dr. Ir. Bambang Riyanta, S.T., M.T. Mengutip pemikiran Yuval Noah Harari, ia menjelaskan pergeseran fundamental AI dari sekadar alat menjadi sebuah “Agen”.
“AI adalah teknologi pertama dalam sejarah yang mampu mengambil keputusan dan menciptakan ide-ide baru secara mandiri.“
Dr. Bambang menekankan bahwa pola didik harus berubah. Siswa tidak cukup hanya diajarkan cara mengoperasikan komputer, tetapi harus dididik menjadi “Manajer” atau “Komandan” bagi AI.
”Jika anak-anak tidak memiliki prinsip dan logika yang kuat, mereka tidak akan lagi mengendalikan teknologi, melainkan justru dikendalikan oleh keputusan-keputusan AI. Tugas guru adalah membimbing mereka berinteraksi dengan AI secara etis dan logis,” paparnya.
Semangat Kolektif dan Apresiasi
Seminar tidak hanya berisi materi berat, namun juga diselingi keceriaan melalui pembagian puluhan doorprize menarik bagi para peserta yang antusias.
Acara ditutup dengan semangat kolektif untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kompetitif di kancah global melalui penguasaan coding dan AI, tetapi juga tetap teguh dengan akar kesalehan pribadi dan sosial yang kuat.
(Fakhrial E. Widodo)





