Surabaya, wartapoint – Semangat literasi terpancar dari raut wajah siswa-siswi MI Muhammadiyah 28 Bangkingan Surabaya (MIM Dupan). Pada Kamis (7/5/2026), para jurnalis cilik yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik kembali berkumpul untuk mendalami teknik dasar penulisan berita dan wawancara.
Dua jurnalis cilik, Hanifa Syakila Farzana dan Keinarra Adena Razky, tampak antusias berlatih wawancara dalam agenda rutin setiap hari Kamis tersebut. Mereka belajar bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar menulis, melainkan menjadi “detektif” informasi yang harus memegang teguh kejujuran.
Menjadi Detektif 5W+1H
Dalam sesi kali ini, Hanifa dan Keinarra diajak memahami rumus sakti 5W+1H (What, Who, Where, When, Why, dan How). Rumus ini menjadi fondasi bagi mereka untuk membedah sebuah peristiwa agar informasi yang disampaikan kepada pembaca menjadi utuh dan tidak membingungkan.
”Ternyata menulis berita itu seru, kita harus cari tahu siapa saja yang terlibat dan bagaimana urutan kejadiannya seperti detektif,” ujar Hanifa.
Piramida Terbalik dan Teknik Wawancara
Selain rumus dasar, para siswa juga diperkenalkan pada struktur Piramida Terbalik. Teknik ini melatih mereka untuk meletakkan informasi paling penting di bagian awal atau Lead berita, sehingga pembaca langsung mendapatkan inti sari peristiwa sejak paragraf pertama.
Tak hanya teori, simulasi wawancara juga dilakukan. Keinarra Adena Razky mempraktikkan cara menyapa narasumber dengan sopan serta menyiapkan daftar pertanyaan yang sistematis.
”Tadi belajar kalau wawancara itu harus senyum, salam, dan jangan lupa mencatat poin penting di buku catatan,” kata Keinarra.
Tanamkan Etika Sejak Dini
Materi ekstrakurikuler ini juga menekankan pentingnya Etika Jurnalistik. Para jurnalis cilik ditekankan untuk selalu jujur, objektif, dan tidak mengarang cerita.
Melalui kegiatan rutin ini, MIM Dupan berharap dapat melahirkan generasi yang kritis, cakap berkomunikasi, dan memiliki kemampuan literasi yang mumpuni sejak tingkat dasar.





